1. Identitas Lengkap
-
Nama lengkap: Muhammad Hasyim bin Asy’ari
-
Nama populer: KH. Hasyim Asy’ari
-
Lahir: 14 Februari 1871 (24 Dzulqa’dah 1287 H)
-
Tempat lahir: Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur
-
Wafat: 25 Juli 1947 (7 Ramadhan 1366 H)
-
Tempat wafat: Jombang, Jawa Timur
-
Makam: Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang
2. Latar Belakang Keluarga
KH. Hasyim Asy’ari berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya, Kyai Asy’ari, adalah pendiri Pesantren Keras di Jombang. Ibunya bernama Nyai Halimah, putri Kyai Usman, seorang ulama terkemuka.
Beliau masih memiliki garis keturunan dari Raja Brawijaya VI (Majapahit) menurut riwayat nasab yang berkembang di masyarakat pesantren.
3. Pendidikan
Sejak kecil beliau belajar di pesantren, di antaranya:
-
Pesantren Wonokoyo (Probolinggo)
-
Pesantren Langitan (Tuban)
-
Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo)
-
Pesantren Bangkalan (Madura)
Pada usia ±21 tahun beliau berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama selama ±7 tahun.
Di Makkah beliau belajar kepada banyak ulama besar, di antaranya:
3. Perjuangan dan Kiprah
Pendiri Pesantren Tebuireng
Pada tahun 1899, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kemudian menjadi salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.
Kisah Berdirinya Pesantren Tebuireng
Pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1899, sebuah daerah di Jombang yang bernama Tebuireng dikenal sebagai tempat yang kurang baik. Wilayah itu masih berupa hutan dan perkebunan tebu. Sebagian masyarakatnya dikenal keras, bahkan ada yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Kondisi moral masyarakat saat itu cukup memprihatinkan.
Melihat keadaan tersebut, seorang ulama muda bernama KH. Hasyim Asy’ari tergerak hatinya. Setelah menuntut ilmu bertahun-tahun di berbagai pesantren di Jawa dan belajar di Makkah selama kurang lebih tujuh tahun, beliau kembali ke tanah air dengan tekad kuat untuk memperbaiki keadaan umat melalui pendidikan.
Awal Perintisan
Dengan dukungan keluarga dan beberapa santri, KH. Hasyim Asy’ari membuka sebuah pengajian kecil di daerah Tebuireng. Awalnya hanya berupa bangunan sederhana dari bambu dan kayu. Santrinya pun masih sedikit, hanya beberapa orang saja.
Namun perjuangan tidaklah mudah. Pada masa awal berdirinya, keberadaan pesantren mendapat penolakan dari sebagian masyarakat sekitar. Ada yang merasa terusik karena kebiasaan buruk mereka mulai dikritik melalui dakwah dan pengajian. Bahkan pernah terjadi gangguan dan ancaman terhadap pesantren.
Meski demikian, KH. Hasyim Asy’ari tetap sabar dan tidak membalas dengan kekerasan. Beliau justru semakin giat berdakwah dan mengajarkan Islam dengan pendekatan akhlak yang lembut.
Perkembangan Pesantren
Lambat laun, masyarakat mulai melihat perubahan. Ajaran beliau yang tegas namun penuh hikmah menarik banyak orang untuk belajar. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, bahkan luar Jawa.
Pesantren Tebuireng kemudian berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani. Sistem pendidikannya memadukan:
- Pengajaran kitab kuning (kitab klasik)
- Penanaman akhlak dan disiplin
- Kemandirian santri
Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar dan tokoh bangsa, termasuk KH. Wahid Hasyim (putra beliau) dan cucunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kelak menjadi Presiden RI ke-4.
Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)
Pada 31 Januari 1926, KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau menjadi Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) NU pertama.
NU didirikan untuk:
-
Menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah
-
Melestarikan tradisi keagamaan pesantren
-
Membela kepentingan umat Islam Indonesia
Perjuangan Melawan Penjajah
KH. Hasyim Asy’ari aktif melawan penjajah Belanda dan Jepang.
Pada 22 Oktober 1945, beliau mengeluarkan Resolusi Jihad, yang mewajibkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.
Resolusi ini menjadi pemicu Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.
Tanggal 22 Oktober kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.
Karya-karya
Beberapa kitab karya beliau antara lain:
-
Adabul ‘Alim wal Muta’allim (Etika guru dan murid)
-
Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah
-
At-Tibyan
-
An-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin
Karya-karya beliau banyak membahas:
-
Akhlak
-
Fiqih
-
Tasawuf
-
Ahlussunnah wal Jama’ah
Sifat dan Kepribadian
KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai:
-
Ulama yang sangat alim dan tawadhu’
-
Tegas dalam prinsip agama
-
Cinta tanah air
-
Berwibawa dan disiplin dalam pendidikan
Beliau sangat menekankan akhlak dalam menuntut ilmu.
Penghargaan
KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama besar, pendidik, pejuang kemerdekaan, dan pendiri Nahdlatul Ulama yang berperan penting dalam sejarah Islam dan Indonesia. Pemikirannya masih menjadi dasar ajaran pesantren dan NU hingga saat ini.