1. Halus tidak pernah marah.
Pernah diceritani Syaikhina Mbah Yai Anwar Manshur Bhw Al'arif Mbah Yai Abdulkarim Muassis Lirboyo itu sangat halus tdk pernah memarahi santri. Paling-paling hanya menangis saat melihat kelakuan santri yang tidak baik. Makanya disukai orang dan santrinya banyak. Dawuh mustahiq saya dulu kurang lebih: _"Mbah Abdul Karim itu aslinya keras tapi berubah menjadi orang yang sangat penyabar."
2. Ngorek kitab-kitab kecil.
Menurut alm. Syaikhina Mbah Yai Idris Marzuqi, Mbah Abdul Karim itu hanya membacakan kitab-kitab kecil sapeti ibnu aqil. Justru yg mengajar kitab-kitab besar seperti Bukhori, Muslim dan lain-lain adalah para santri-santri senior. Karena itulah sebelum wafat beberapa kali Mbah Yai Idris dalam sidang kwartal mendorong para mustahiq/munawwib di lirboyo untuk mau ngorek/mengajar kitab-kitab yang besar.
3. Shohibul futuh dan shohibul karomah ilmu
Ada lagi yang bercerita, sebenarnya dimasa itu banyak Ulama yang lebih 'alim dari beliau. Tapi para santri saat itu menganggap mondok/ngaji kepada Mbah Abdul Karim itu mujarrob sebagai kunci mendapatkan futuh. Maka tidak heran jika di era beliau banyak sekali yang mondok di Lirboyo adalah para alumni-alumni jebolan dari berbagai pesantren yang sudah alim. Mbah Yai Idris pernah dawuh bahwa karomahnya Mbah Abdul Karim itu fi babil ilmi.
4. Sangat tawadluk
Dan yang sangat jelas Mbah Abdul Karim itu piantun Agung yang super tawadluk. Mbah Yai Idris pernah mempersilahkan para santri untuk meniru Mbah Abdul Karim dalam hal apa saja semampunya kecuali dalam hal nikah di usia tua. Mbah Yai Abdul Karim itu beda. Beliau telat nikah sampai usia 50 tahun itu karena saking tawadluknya sehingga merasa tidak pantas untuk menikahi wanita manapun. Diantara ketawadlukan Mbah abdul Karim adalah tidak pernah mengaku punya santri. Tapi beliau menganggap para santri-santri sebagai santrinya Guru beliau yakni Syaikhona kholil. Tidak heran jika sering kita mendengar para Masyayikh lirboyo sampai sekarang tidak mengaku memiliki santri tapi hanya mengaku sebagai penerus para muassis. Masyhad inilah yang sering dinasehatkan masyayikh agar para pengajar di lirboyo janggan sekali-sekali merasa punya murid/santri. Tapi hendaknya memposisikan diri sebagai khodim dan talang ilmunya para masyayikh. _"Mbah Abdul Karim, Mbah Marzuqi dan Mbah Mahrus Ali saja tidak berani mengaku punya santri masa kalian berani?"_ Kurang lebih Dawuh Mbah Yai Idris saat itu dihadapan para khodimin MHM Lirboyo. Adalagi masyayikh yang bercerita, bahwa Mbah Yai Abdul Karim itu selalu menunduk dan tidak pernah menengadahkan wajahnya ke atas. Menurut Imam Asya'rony memang ada sebagian para wali-wali Alloh yang berada di maqom tawadluk atau kamalul ubudiyah dengan ciri-ciri selalu menunduk serta tidak pernah menengadahkan wajahnya ke langit. Masih menurut Imam Asya'rony, ciri-ciri orang yang sudah mencapai maqom tawadluk tob'i (menjadi watak tabiat) itu tidak akan bisa berubah menjadi takabur/ujub/ge-er andaikan dipuji-dipuji satinggi langit oleh banyak manusia. Dan derajat orang yang tawadluk itu bisa lebih dekat kepada Kanjeng Nabi saw. melebihi orang-orang yang lebih alim dan lebih banyak membaca sholawat Nabi.
وقد شهد النبي ص م. للشيخ نور الدين الطندتائي بالتواضع في واقعة رأيتها، وذلك أني رأيته قريبا في حضرة رسول الله ص م مقدما على مشايخه، فقال شخص يا رسول الله ما سبب قرب هذا منك ولم يكن أكثرهم علما ولا صلاة عليك فقال النبي ص م قربه مني تواضعه. (العهود المحمدية للإمام عبد الوهاب الشعراني)
6. Haliyah menjelang wafat
✍️: Rindu berat bertemu Alloh.
Menjelang wafat, setelah mengetahui kabar wafatnya Mbah Yai Zainuddin mojosari nganjuk Syaikh Abdul Karim dawuh: _"Lhoo..aku kok ditinggal.."_ tidak lama kemudian beliau menyusul sowan Gusti Alloh. Ada sebagian orang solih bermimpi melihat dua bintang terbang beriringan sebagai isyarat wafatnya Beliau berdua secara beriringan. Insyaalloh beliau berdua termasuk walinya Alloh. Kurang lebih begitulah cerita dr Mbah Yai Idris saat itu.
من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه
✍️: Mahabbatunnabi
Dalam buku 3 tokoh diceritakan bahwa Beliau sangat menginginkan wafat dihari senin Sebagaimana dulu Sayyidina Abubakar Ashiddiq Ra. Juga sangat menginginkan wafat dihari senin seperti hari wafatnya Sang Kekasih Baginda Nabi saw. dan Alloh telah mengabulkan harapan para kekasih-Nya.
✍️: Kuatnya ikatan batin dengan Guru
Saat menjelang wafat beliau Mbah Yai Abdul Karim tidak minta doa macam-macam. Beliau hanya minta didoakan semoga diakui oleh Syaikhona Kholil bangkalan sebagai santri. Semoga kita semua diakui sebagai santri beliau...Amin 3x
الى حضرة النبي محمد ص م ولسائر مشايخنا وله..... الفاتحة
Tidak ada komentar:
Posting Komentar