Jumat, 06 Maret 2026

Sholat Witir

 1. Pengertian Sholat Witir

Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat Isya sampai sebelum Subuh dengan jumlah rakaat ganjil (1, 3, 5, 7, 9, atau 11 rakaat).

Yang paling umum dilakukan adalah 3 rakaat dengan 2 salam:

  • 2 rakaat salam
  • 1 rakaat salam

2. Niat Sholat Witir

Niat Witir 2 Rakaat

Arab

نَوَيْتُ صَلَاةَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin

Nawaitu sholatal witri rak'ataini sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya

"Saya niat sholat sunnah witir dua rakaat karena Allah Ta'ala."

Niat Witir 1 Rakaat

Arab

نَوَيْتُ صَلَاةَ الْوِتْرِ رَكْعَةً سُنَّةً لِلّٰهِ تَعَالَى

Latin

Nawaitu sholatal witri rak'atan sunnatan lillahi ta'ala.

Artinya

"Saya niat sholat sunnah witir satu rakaat karena Allah Ta'ala."

3. Tatacara Sholat Witir 2 Rakaat

Witir 2 Rakaat

Urutannya sama seperti sholat sunnah biasa:

  1. Niat
  2. Takbiratul ihram
  3. Membaca Al-Fatihah
  4. Membaca surat pendek (biasanya Al-A'la)
  5. Ruku'
  6. I'tidal
  7. Sujud
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Sujud kedua
  10. Berdiri rakaat kedua
  11. Al-Fatihah
  12. Surat pendek (biasanya Al-Kafirun)
  13. Ruku'
  14. I'tidal
  15. Sujud
  16. Duduk tasyahud
  17. Salam

Witir 1 Rakaat

  1. Niat
  2. Takbiratul ihram
  3. Membaca Al-Fatihah
  4. Membaca surat Al-Ikhlas
  5. Ruku'
  6. I'tidal
  7. Sujud
  8. Duduk di antara dua sujud
  9. Sujud kedua
  10. Tasyahud
  11. Salam

4. Do’a Qunut Witir

Biasanya dibaca setelah i'tidal pada rakaat terakhir di separuh akhir Ramadhan atau boleh setiap malam.

Arab

اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ
وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ
وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ
وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ
وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ
فَإِنَّكَ تَقْضِي وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ
إِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ
وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ
تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ

5. Dzikir setelah sholat witir

Biasanya membaca:

3 kali

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ

Latin:
Subhanal Malikil Quddus

Pada bacaan ketiga biasanya dikeraskan dan dipanjangkan:

سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ رَبِّ الْمَلَائِكَةِ وَالرُّوحِ


6. Waktu sholat witir

Witir bisa dilakukan:

  • setelah Isya
  • setelah Tarawih
  • setelah Tahajud
  • sebelum Subuh

Namun yang paling utama di akhir malam setelah tahajud.


Kesimpulan

Yang paling sering dilakukan:

  • Tarawih
  • Witir 3 rakaat (2 rakaat salam + 1 rakaat salam)
Ini mengikuti madzhab Nahdlatul Ulama yang berpegang pada madzhab Muhammad ibn Idris al-Shafi'i (Syafi'i).

Kamis, 05 Maret 2026

Bacaan Sholawat Fatih dan Fadhilahnya

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ

الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ
وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ
نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ
وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيمِ
وَعَلَى آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيمِ

Allahumma shalli 'ala sayyidina Muhammadin
al-fâtihi limâ ughliq
wal-khâtimi limâ sabaq
nâshir il-haqqi bil-haqq
wal-hâdî ilâ shirâthikal mustaqîm
wa 'alâ âlihi haqqo qadrihi wa miqdârihil 'azhîm.

"Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad,
yang membuka apa yang tertutup,
yang menjadi penutup para nabi sebelumnya,
penolong kebenaran dengan kebenaran,
dan pemberi petunjuk menuju jalan-Mu yang lurus.
Dan limpahkanlah pula kepada keluarga beliau sesuai dengan kedudukan dan derajat beliau yang agung."

Fadhilah / Keutamaan Sholawat Fatih

Beberapa ulama menyebutkan keutamaan membaca sholawat ini, di antaranya:

Mendapat rahmat dan keberkahan dari Allah
Karena membaca sholawat kepada Nabi adalah amalan yang sangat dianjurkan.

Menenangkan hati dan pikiran
Dzikir dan sholawat membuat hati menjadi lebih tenang.

Mendekatkan diri kepada Rasulullah
Dengan memperbanyak sholawat, kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ akan semakin kuat.

Membuka kesulitan dan dimudahkan urusan
Sebagian ulama dan ahli dzikir mengamalkannya sebagai wirid untuk memohon kemudahan hidup.

Mendapat syafaat Nabi Muhammad ﷺ
Orang yang sering bersholawat diharapkan mendapatkan syafaat beliau di hari kiamat.

 

Cara Mengamalkan (yang umum dilakukan):

  • Dibaca 11 kali setelah sholat fardhu
  • Atau 100 kali setiap hari
  • Atau sebagai wirid dalam majelis sholawat

 

 

 

Sabtu, 28 Februari 2026

Syiiran Ba'da Sholat Tarawih

 Asyhadu anlaa ilahaa illalloh, ngaweruhi ingsun setuhune ora nana pengeran kang wajib den sembah...  Ing dalem wujude, kang mesti ning anane, kang sugih selawase, kang wenang olihe gawe, anging pengeran Alloh...  Wa asyhadu Anna Muhammadun Rosululloh, ngaweruhi ingsun setuhune Kanjeng Nabi Muhammad iku dadi utusane Alloh... 


Kang rama ki Abdulloh, kang ibu Siti Aminah, lahir dalam Mekah, diutus dalam Mekah, nuli pindah maring Madinah, dikubur maring Madinah, bangsane bangsa Hasyim bangsa Quraisy... 

Sholat Jum'at

 Sholat jum'at hukumnya fardhu 'ain bagi setiap laki-laki yang mukalaf (berakal dan baligh),serta menetap atau bertempat tinggal di suatu daerah.

Syarat Wajib Sholat Jum'at 

Orang islam wajib menjalanka sholat jum'at apabila memenuhi enam syarat :

  1. Islam
  2. Baligh
  3. Berakal
  4. Laki-laki
  5. Sehat/mampu
  6. Menetap (muqim)
Syarat Khutbah Jum'at

Khutbah jum'at termasuk syarat sholat jum'at ,dan khutbah juga memiliki syarat yang harus dipenuhi.Adapun syarat khutbah jum'at adalah sebagai berikut :

  1. Dilakukan oleh laki-laki
  2. Berdiri bagi yang mampu
  3. Duduk diantara dua khutbah,selama membaca surat Al-Ikhlash
  4. Kotib (Orang yang khutbah) dalam keadaan suci,baik badan maupun pakaian.
  5. Khatib harus menutup aurat.
  6. Rukun khutbah harus diperdengarkan oleh empat puluh orang.
  7. Rukun khutbah harus didengar oleh empat puluh orang.
  8. Semua rukun khutbah harus menggunakan bahasa Arab.
  9. Kedua khutbah harus dilakukan pada waktu dhuhur.
  10. Harus muwalah (berturut-turut) pada tiga tempat,yaitu :
  • Di antara rukun khutbah.
  • Di antara dua khutbah
  • Di antara khutbah dan sholat.
Rukun Khutbah 

Khutbah dianggap sah apabila memenuhi lima rukun :

  1. Membaca hamdalah disertai lafadz jalalah.
  2. Membaca shalawat.
  3. Wasiat kepada jama'ah agar taqwa.
  4. Membaca ayat Al-Qur'an pada salah satu dari dua khutbah.
  5. Berdoa denga segala hal yang bersifat ukhrowi,pada waktu khutbah kedua.

Niat Sholat Jum’at Makmum

أُصَلِّي فَرْضَ الْجُمْعَةِ مَأْمُومًا لِلهِ تَعَالَى   

Ushallî fardha jumu’ati ma’mûman lillâhi ta’âlâ. 

Artinya, “Saya shalat Jumat sebagai makmum karena Allah ta’âlâ.”


Niat shalat Jumat Imam

أُصَلِّي فَرْضَ الْجُمْعَةِ إِمَامًا لِلهِ تَعَالَى   

 Ushallî fardhal jumu’ati imâmal lillahi ta’âlâ. 

Artinya, “Saya shalat Jumat sebagai imam karena Allah ta’âlâ.”

 

 اَللَّهُمَّ يَا غَنِيُّ يَا حَمِيْدُ يَا مُبْدِئُ يَا مُعِيْدُ يَا رَحِيْمُ يَا وَدُوْدُ أَغْنِنِيْ بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَطَاعَتِكَ عَنْ مَعْصِيَتِكَ وَبِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

Allahumma Ya Ghaniyyu Ya Hamid, Ya Mubdi’u Ya Mu’id, Ya Rahim Ya Wadud, Aghniniy bihalalika an haramika, wa bi to’atika an ma’siyatika, wa bifadlika amman siwaka.

"Ya Allah, Wahai Dzat yang Maha Kaya, Maha Terpuji, Maha Pencipta,  Maha Mengembalikan, Maha Penyayang, Maha Pengasih, Maha penuh Cinta, kami memohon kepada-Mu, jadikanlah kami kaya dengan apa yang telah Kau halalkan dari yang Kau haramkan, dan dengan ketaatan pada-Mu dari bermaksiat pada-Mu, dan karunia-Mu dari pihak selain diri-Mu.”

Doa tersebut dibaca sebanyak 4 kali untuk mendoakan keluarga, anak, urusan agama dan dunia terhindar dari keburukan.


Selasa, 10 Februari 2026

PROFIL KH. HASYIM ASY’ARI



1. Identitas Lengkap

  • Nama lengkap: Muhammad Hasyim bin Asy’ari

  • Nama populer: KH. Hasyim Asy’ari

  • Lahir: 14 Februari 1871 (24 Dzulqa’dah 1287 H)

  • Tempat lahir: Desa Gedang, Jombang, Jawa Timur

  • Wafat: 25 Juli 1947 (7 Ramadhan 1366 H)

  • Tempat wafat: Jombang, Jawa Timur

  • Makam: Kompleks Pesantren Tebuireng, Jombang

2. Latar Belakang Keluarga

KH. Hasyim Asy’ari berasal dari keluarga pesantren. Ayahnya, Kyai Asy’ari, adalah pendiri Pesantren Keras di Jombang. Ibunya bernama Nyai Halimah, putri Kyai Usman, seorang ulama terkemuka.

Beliau masih memiliki garis keturunan dari Raja Brawijaya VI (Majapahit) menurut riwayat nasab yang berkembang di masyarakat pesantren.

3. Pendidikan

Sejak kecil beliau belajar di pesantren, di antaranya:

  • Pesantren Wonokoyo (Probolinggo)

  • Pesantren Langitan (Tuban)

  • Pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo)

  • Pesantren Bangkalan (Madura)

Pada usia ±21 tahun beliau berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu agama selama ±7 tahun.
Di Makkah beliau belajar kepada banyak ulama besar, di antaranya:

  • Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi

  • Syekh Mahfudz at-Tarmasi

  • Syekh Nawawi al-Bantani

3. Perjuangan dan Kiprah

Pendiri Pesantren Tebuireng

Pada tahun 1899, beliau mendirikan Pesantren Tebuireng di Jombang, yang kemudian menjadi salah satu pesantren terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia.

Kisah Berdirinya Pesantren Tebuireng

Pada akhir abad ke-19, tepatnya sekitar tahun 1899, sebuah daerah di Jombang yang bernama Tebuireng dikenal sebagai tempat yang kurang baik. Wilayah itu masih berupa hutan dan perkebunan tebu. Sebagian masyarakatnya dikenal keras, bahkan ada yang gemar berjudi dan mabuk-mabukan. Kondisi moral masyarakat saat itu cukup memprihatinkan.

Melihat keadaan tersebut, seorang ulama muda bernama KH. Hasyim Asy’ari tergerak hatinya. Setelah menuntut ilmu bertahun-tahun di berbagai pesantren di Jawa dan belajar di Makkah selama kurang lebih tujuh tahun, beliau kembali ke tanah air dengan tekad kuat untuk memperbaiki keadaan umat melalui pendidikan.


Awal Perintisan

Dengan dukungan keluarga dan beberapa santri, KH. Hasyim Asy’ari membuka sebuah pengajian kecil di daerah Tebuireng. Awalnya hanya berupa bangunan sederhana dari bambu dan kayu. Santrinya pun masih sedikit, hanya beberapa orang saja.

Namun perjuangan tidaklah mudah. Pada masa awal berdirinya, keberadaan pesantren mendapat penolakan dari sebagian masyarakat sekitar. Ada yang merasa terusik karena kebiasaan buruk mereka mulai dikritik melalui dakwah dan pengajian. Bahkan pernah terjadi gangguan dan ancaman terhadap pesantren.

Meski demikian, KH. Hasyim Asy’ari tetap sabar dan tidak membalas dengan kekerasan. Beliau justru semakin giat berdakwah dan mengajarkan Islam dengan pendekatan akhlak yang lembut.

Perkembangan Pesantren

Lambat laun, masyarakat mulai melihat perubahan. Ajaran beliau yang tegas namun penuh hikmah menarik banyak orang untuk belajar. Santri berdatangan dari berbagai daerah di Jawa, bahkan luar Jawa.

Pesantren Tebuireng kemudian berkembang pesat dan menjadi pusat pendidikan Islam yang disegani. Sistem pendidikannya memadukan:

  • Pengajaran kitab kuning (kitab klasik)
  • Penanaman akhlak dan disiplin
  • Kemandirian santri

Dari pesantren inilah lahir banyak ulama besar dan tokoh bangsa, termasuk KH. Wahid Hasyim (putra beliau) dan cucunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang kelak menjadi Presiden RI ke-4.

Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)

Pada 31 Januari 1926, KH. Hasyim Asy’ari bersama para ulama mendirikan Nahdlatul Ulama (NU).
Beliau menjadi Rais Akbar (Pemimpin Tertinggi) NU pertama.

NU didirikan untuk:

  • Menjaga ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah

  • Melestarikan tradisi keagamaan pesantren

  • Membela kepentingan umat Islam Indonesia

Perjuangan Melawan Penjajah

KH. Hasyim Asy’ari aktif melawan penjajah Belanda dan Jepang.

Pada 22 Oktober 1945, beliau mengeluarkan Resolusi Jihad, yang mewajibkan umat Islam mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari penjajah.

Resolusi ini menjadi pemicu Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Tanggal 22 Oktober kini diperingati sebagai Hari Santri Nasional.

Karya-karya

Beberapa kitab karya beliau antara lain:

  • Adabul ‘Alim wal Muta’allim (Etika guru dan murid)

  • Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah

  • At-Tibyan

  • An-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyid al-Mursalin

Karya-karya beliau banyak membahas:

  • Akhlak

  • Fiqih

  • Tasawuf

  • Ahlussunnah wal Jama’ah

Sifat dan Kepribadian

KH. Hasyim Asy’ari dikenal sebagai:

  • Ulama yang sangat alim dan tawadhu’

  • Tegas dalam prinsip agama

  • Cinta tanah air

  • Berwibawa dan disiplin dalam pendidikan

Beliau sangat menekankan akhlak dalam menuntut ilmu.

Penghargaan

  • Ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional Indonesia pada tahun 1964.

  • Dikenang sebagai Hadratussyaikh (Maha Guru).

KH. Hasyim Asy’ari adalah ulama besar, pendidik, pejuang kemerdekaan, dan pendiri Nahdlatul Ulama yang berperan penting dalam sejarah Islam dan Indonesia. Pemikirannya masih menjadi dasar ajaran pesantren dan NU hingga saat ini.

Shalat Sunah Dhuha

 Sholat dhuha adalah sholat sunah yang dilakukan di pagi hari,waktunya adalah mulai terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari (masuk waktu dzuhur). Adapun bilangan rakaatnya paling sedikit 2 raka'at,paling banyak 12 raka'at,tetapi yang paling utama adalah 8 raka'at.

Niat Shalat Dhuha

أُ صَلِّى سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

Aku niat shalat sunah dhuha dua raka'at ,karena Allah ta'ala


Do'a Shalat Dhuha

 


اَللهُمَّ اِنَّ الضُّحَآءَ ضُحَاءُكَ، وَالْبَهَاءَ بَهَاءُكَ، وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ، وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ، وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ، وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللهُمَّ اِنْ كَانَ ِرِزْقِى فِى السَّمَآءِ فَأَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَأَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعْسِرًا (مُعَسَّرًا) فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَاءِكَ وَبَهَاءِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ آتِنِىْ مَآاَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

Allāhumma innad dhuhā’a dhuhā’uka, wal bahā’a bahā’uka, wal jamāla jamāluka, wal quwwata quwwatuka, wal qudrata qudratuka, wal ishmata ishmatuka. 

Allāhuma in kāna rizqī fis samā’i fa anzilhu, wa inkāna fil ardhi fa akhrijhu, wa inkāna mu’siran (mu‘assaran) fa yassirhu, wa in kāna harāman fa thahhirhu, wa inkāna ba‘īdan fa qarribhu, bi haqqi duhā’ika wa bahā’ika wa jamālika wa quwwatika wa qudratika. ātinī mā atayta ‘ibādakas shālihīn. 

Artinya :“Wahai Tuhanku, sungguh dhuha ini adalah dhuha-Mu, keagungan ini adalah keagungan-Mu, keindahan ini adalah keindahan-Mu, kekuatan ini adalah kekuatan-Mu, dan penjagaan ini adalah penjagaan-Mu.

Wahai Tuhanku, jika rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah. Jika berada di dalam bumi, maka keluarkanlah. Jika sukar atau dipersulit (kudapat), mudahkanlah. Jika (tercampur tanpa sengaja dengan yang) haram, sucikanlah. Jika jauh, dekatkanlah dengan hak dhuha, keelokan, keindahan, kekuatan, dan kekuasaan-Mu, datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada para hamba-Mu yang saleh.”

Selasa, 13 Januari 2026

Sholat Sunnah Syukril Wudhu'

 Diriwayatkan bahwa sholat sunah syukril wudhu' berfaidah sangat besar sekali,karena dalam riwayat tersebut bahwa Rasulullah SAW. pernah mendengar suara terompah kaki sahabat Bilal di surga,berikut keterangannya  :

Rasulullah saw meminta sahabat Bilal bin Abi Rabbah ra, untuk menceritakan perihal amal yang rutin dilakukannya, sampai-sampai membuatnya tenar di kalangan makhluk langit. 

Nabi saw bersabda:

   حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمَلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ، إِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ فِي الْجَنَّةِ 

Artinya, “Tolong ceritakan kepadaku amal yang menjadi harapan terbesarmu yang telah kamu lakukan setelah masuk Islam, karena aku sempat mendengar suara kedua sandalmu di surga.” 

Sahabat Bilal menjawab

مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي مِنْ أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ فِي سَاعَةٍ مِنْ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ 

Artinya, “Aku tidak melakukan suatu amal yang lebih aku harapkan pahalanya di sisiku daripada amalku di mana aku tidak bersuci di waktu malam atau siang kecuali aku shalat dengan kesucian tersebut dengn shalat yang telah aku sanggupi untuk melakukannya.” (HR al-Bukhari dan Muslim). (Alawi bin Abbas al-Maliki, Fathul Qarîbil Mujîb ‘alâ Tahdzîbit Targhîb wat Tarhîb, halaman 67).

Shalat sunnah Wudhu dianjurkan dilaksanakan setiap kali selesai wudhu dengan tujuan apapun; baik karena hadats atau yang lain. Bahkan kendati wudhunya tergolong mujaddad atau wudhu yang diperbaharui dalam kondisi masih suci, tetap dianjurkan shalat sunnah Wudhu. 

Artinya, kesunnahan shalat sunnah Wudhu tak harus dengan wudhu yang dilakukan karena ada hadats, seperti yang dikatakan Syekh Zakariya al-Anshari, ‘Wa minhu rak’tâl wudhû‘i walau mujaddadan’, atau termasuk yang sunnah dilakukan yaitu dua rakaat shalat sunnah Wudhu walaupun wudhunya mujaddad.” (Al-Anshari, Tuhfatuth Thullâb, juz I, halaman 301). 

Terkait jumlah rakaat, shalat sunnah Wudhu tak mesti dua rakaat, tetapi boleh lebih dari dua rakaat sebagaimana shalat Tahiyyatul Masjid, yang penting masih dalam kelipatan dua. 

 Adapun lafal niatnya adalah:      أُصَلِّي سُنَّةَ الْوُضُوءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى 

Ushalli sunnatal uudhu‘i rak’ataini lillahi ta’ala.  

Artinya, “Saya niat shalat sunnah Wudhu dua rakaat karena Allah ta’ala”.


Kamis, 01 Januari 2026

Khutbah Jum'at Tahun Baru Masehi 2026

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الدَّاعِي إِلَى طَاعَتِهِ، وَالْمُوَفِّقُ لِهِدَايَتِهِ، الَّذِي أَمَرَ عِبَادَهُ بِعِبَادَتِهِ، وَبَيَّنَ لَهُمْ أَحْكَامَ شَرِيعَتِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ اعْتِقَادًا لِرُبُوبِيَّتِهِ، وَإِذْعَانًا لِجَلَالِهِ وَعَظَمَتِهِ وَصَمَدِيَّتِهِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الْمُصْطَفَى مِنْ خَلِيقَتِهِ، وَالْمُخْتَارُ الْمُجْتَبَى مِنْ بَرِيَّتِهِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى خَيْرِ الْإِنْسَانِ الْمُبَلِّغِ عَنْ رِسَالَةِ الرَّحْمٰنِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمَحْبُوْبِيْنَ جَمِيْعًا. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ، الْقَائِلِ فِي مُحْكَمِ كِتَابِهِ: يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

 Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Tidak terasa kita telah berada di awal tahun 2026 Masehi. Pergantian tahun akan senantiasa berulang hingga tiba hari kiamat kelak. Hal ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita sebagai umat Islam bahwa waktu akan terus berjalan, masa akan terus berganti, dan semua itu merupakan pelajaran sekaligus bukti bahwa tidak ada sesuatu pun yang abadi di dunia ini selain Allah Ta’ala, Sang Pencipta waktu. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita mempersiapkan diri untuk menyongsong tahun ini dengan senantiasa berupaya melaksanakan seluruh perintah Allah Ta’ala dan menjauhi segala bentuk larangan-Nya. Sebab, hanya ketakwaanlah yang menjadi sebaik-baik bekal dalam menghadapi perjalanan waktu, terlebih ketika kelak kita menghadap kepada Allah Ta’ala pada hari kiamat. Sebagaimana firman Allah Ta’ala

: ‎وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الأَلْبَابِ 


  Artinya, “Berbekallah karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS Al-Baqarah [2]: 197). 


  Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,


Sebagaimana waktu yang terus berganti, kita pun harus menyadari bahwa kehidupan ini pada akhirnya akan berakhir dengan kematian. Setelah kematian, kita akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan seluruh amal perbuatan kita. Hal ini ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya: ‎كَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللّٰهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَ   

Artinya, “Bagaimana kalian dapat mengingkari Allah. Sedangkan kalian sebelumnya tidak ada, kemudian Allah menghidupkan kalian, lalu Dia mematikan kalian, selanjutnya Dia menghidupkan kalian kembali, kemudian kepada-Nya kalian dikembalikan.” (QS. Al-Baqarah. Ayat 28). Ayat tersebut dengan tegas menjelaskan keesaan dan kekuasaan Allah Ta’ala yang tampak pada diri kita, yaitu melalui pergantian masa kehidupan. Manusia bermula dari ketiadaan, kemudian dilahirkan, selanjutnya dimatikan, dan kelak akan dihidupkan kembali. Ayat ini juga menegaskan bahwa setiap makhluk Allah Ta’ala memiliki batas waktu kehidupan yang telah ditentukan. Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan kesempatan di awal tahun ini untuk mempersiapkan diri menjadi pribadi yang pantas menghadap Allah Ta’ala sebagai hamba-Nya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari, terutama atas nikmat yang sangat besar, yaitu nikmat kesehatan dan kelapangan waktu. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW:   

‎نِعْمَتَان

 مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ اَلصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ 

 Artinya, “Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu (lalai) padanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR al-Bukhari). Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita bersama-sama memanfaatkan keluangan waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya, dengan mengambil setiap kesempatan kebaikan yang datang. Terlebih di awal tahun ini, Allah Ta’ala telah menyiapkan berbagai nikmat dan anugerah yang patut kita syukuri dengan hati yang bersih dan penuh kesadaran. Jangan sampai waktu luang yang kita miliki berlalu begitu saja tanpa menghasilkan kemanfaatan yang nyata. Baginda Nabi Muhammad SAW bersabda:

 مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ 

Artinya: “Di antara tanda kebaikan keislaman seseorang adalah ia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. Ahmad).   Melalui sabda tersebut, Baginda Nabi Muhammad SAW memberikan nasihat agar kita memanfaatkan waktu luang dengan hal-hal yang bermanfaat, seperti memperbanyak ibadah, membaca dan berusaha memahami Al-Qur’an serta mengamalkannya, bekerja dengan sungguh-sungguh untuk mencukupi kebutuhan diri dan keluarga, serta berbagai aktivitas kebaikan lainnya. Hadirin sekalian, apabila kita benar-benar memahami dan mengamalkan kandungan hadits ini, niscaya kehidupan yang kita jalani akan menjadi lebih bernilai, lebih bermakna, dan insya Allah kita tidak termasuk golongan orang-orang yang menyesal karena menyia-nyiakan waktu tanpa kemanfaatan. Oleh karena itu, pada kesempatan yang mulia ini, khususnya di awal tahun 2026, marilah kita tinggalkan segala hal yang tidak bermanfaat, terlebih lagi perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kemudaratan. Mari kita ambil langkah nyata untuk menebarkan kebaikan, memberikan manfaat kepada sesama, dan tentunya untuk kebaikan diri kita sendiri, baik di dunia maupun di akhirat. 

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, 

Tahun baru merupakan kesempatan baru bagi kita semua untuk membuka lembaran kehidupan yang baru. Marilah kita tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk di tahun yang lalu, dan mulai membiasakan diri secara konsisten dengan kegiatan-kegiatan yang positif dan bermanfaat. Kita perlu menyadari bahwa kesempatan adalah nikmat yang sangat berharga yang dianugerahkan Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Untuk itu, marilah kita cermati nasihat Baginda Nabi Muhammad SAW kepada Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari:

 ‎عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَر رَضِيَ الله عَنْهُمَا قَالَ : أَخَذَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُسَبِيْلٍ وَكاَنَ ابْنُ عُمَرُ يَقُوْلُ إِذَا أَمْسَيْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلاَ تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ وَخُذْ مِنْ صِحَّتِكَ لِمَرَضِكَ وَ مِنْ حَيَاتِكَ لِمَوْتِكَ .رواه البخاري   

Artinya: “Dari Abdullah bin Umar ia berkata: ‘Rasulullah saw memegang kedua pundakku seraya bersabda, ‘Jadilah kamu di dunia ini seakan-akan kamu orang asing atau orang yang melewati suatu jalan.’ Ibnu Umar berkata: ‘Apabila kamu berada di sore hari janganlah kamu menunggu (melakukan sesuatu) hingga pagi hari (datang). Apabila kamu berada di pagi hari jangankah menunggu (melakukan sesuatu) hingga sore (datang). Gunakan waktu sehatmu untuk menghadapi sakitmu, dan waktu hidupmu untuk menghadapi matimu." (HR Bukhari)   

Dalam nasihat tersebut, Baginda Nabi Muhammad SAW mendorong Ibnu Umar agar senantiasa memanfaatkan setiap kesempatan waktu yang dilaluinya. Beliau mengingatkan agar waktu yang diberikan Allah Ta’ala tidak berlalu begitu saja tanpa diisi dengan kemanfaatan dan peningkatan dalam kebaikan.   Dalam hadits tersebut pula, Baginda Nabi mengingatkan agar kita tidak larut dalam angan-angan yang panjang, sehingga terjebak pada hal-hal yang tidak bermanfaat, bahkan dapat menyeret kepada kemudaratan. Hal ini relevan dengan kondisi kita saat ini, ketika masih sering menunda-nunda untuk berbuat kebaikan, dan terkadang lebih mementingkan aktivitas yang kurang produktif, seperti berlama-lama dengan media sosial, daripada segera memenuhi panggilan azan. Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah, Marilah kita cermati dan amalkan dengan sungguh-sungguh nasihat Imam Syafi’i yang diriwayatkan oleh Imam As-Sya’rani:   

قَالَ الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: اسْتَفَدْتُ مِنْهُمْ شَيْئَيْنِ: قَوْلُهُمْ الْوَقْتُ سَيْفٌ إِنْ لَمْ تَقْطَعْهُ قَطَعَكَ، وَقَوْلُهُمْ إِنْ لَمْ تَشْغَلْ نَفْسَكَ بِالْخَيْرِ شَغَلَتْكَ بِالشَّرِّ 

Artinya: “Imam As-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu berkata, ‘Aku memperoleh dua pelajaran dari mereka, yaitu bahwa waktu itu bagaikan pedang, jika tidak engkau manfaatkan maka ia akan mencelakakanmu; dan jika engkau tidak menyibukkan dirimu dengan kebaikan, niscaya engkau akan disibukkan dengan keburukan.’” 

Dari nasihat tersebut, kita mendapatkan teladan nyata dari para ulama salaf tentang pentingnya menghargai waktu, serta bagaimana menata dan memanfaatkannya secara konsisten untuk beramal saleh, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Oleh karena itu, marilah kita masing-masing melakukan introspeksi diri untuk lebih memprioritaskan hal-hal yang bermanfaat, karena perlu kita sadari bahwa kesempatan yang sama tidak akan datang untuk kedua kalinya.

 Demikian khutbah Jumat pada siang hari ini. Semoga kita semua senantiasa termotivasi untuk memanfaatkan nikmat kesehatan dan keluangan waktu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita dengan sebaik-baiknya dalam hal-hal yang bermanfaat. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

   ‎أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ 


Khutbah II

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الْمُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى. فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ. وَالْعَصْرِ، إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ، إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ. فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْأَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ، مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا إِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً، وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Sholat Witir

  1. Pengertian Sholat Witir Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat Isya sampai sebelum Subuh de...