السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد
قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ
الرَّجِيْمِ. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ
وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ
فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ
بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ
تَاۡوِيۡلًا
Kaum muslimin sidang jum’at
rahimakumullah
Pada kesempatan yang sangat berharga
ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah
dengan imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi (melaksanakan
perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya).
Ketahuilah, tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa dihadapan Allah SWT,
kecuali takwa kita kepada Allah SWT.
Kaum muslimin sidang Jum’at
rahimakumullah
Kita sudah mengetahui, jika
seseorang tidak bisa mengambil langsung hukum yang ada dalam al-Qur’an maka ia
wajib mengikuti pendapat ulama yang memiliki ilmu. Ia tidak boleh dengan
sembarangan menafsiri al-Qur’an atau memahami al-Hadits tanpa ilmu. Dalam
beribadah misalnya, orang awam sebaiknya mengikuti ulama madzhab atau lebih
mudahnya mengikuti para mujtahid. Ibn Katsir dalam menjelaskan
makna ulil amri pada surah al-Nisa’ ayat 59 sebagai
orang-orang yang paham ilmu agama secara luas dan mendalam. Apa yang dikatakan
oleh Ibn Katsir ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Abdullah bin Abbas,
Jabir bin Abdullah al-Anshari, Mujahid bin Jabr, ‘Atha’ bin Abi Rabah, al-Hasan
al-Bashri dan lain-lain. Surat al-Nisa’ ayat 59 tersebut berbunyi.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يٰۤـاَيُّهَا
الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى
الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ
وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ ؕ
ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ تَاۡوِيۡلًا
Artinya: Wahai orang-orang yang
beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian
berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah (penyelesaian
masalah itu) kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari
akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih bagus akibatnya.
Para ahli ushul fiqh juga
menganjurkan bagi orang awam untuk mengikuti para mujtahid dalam menjalankan
ibadah seperti yang tersebut dalam surah an-Nahl ayat 43
فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا
تَعْلَمُوْنَۙ
Artinya: Bertanyalah kalian
kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.
Pertanyaannya sekarang adalah,
siapakah mujtahid yang mashur dan baik untuk diikuti. Jawabannya adalah para
mujtahid yang sering disebut sebagai empat imam madzhab. Kenapa disebut
madzhab? Jawabannya adalah karena empat imam tersebut telah berijtihad dan
menfatwakan hasil ijtihadnya lalu diikuti oleh murid-muridnya, kemudian
murid-murid tersebut menyebarkan gagasan Sang imam hingga sekarang. Imam yang
empat itu adalah Imam Abu Hanifah (lahir 80 H/699 M meninggal 150 H/767 M),
Imam Malik (lahir 95 H/713 M dan meninggal tahun 179 H/795 M), Imam Syafi’i
(lahir tahun 150 H/767 dan meninggal 204 H/819 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal
(lahir 164 H/781 M dan meninggal 241 H/855 M.
Kenapa empat madzhab itu yang
dipilih? Alasannya seperti yang diungap oleh Imam Waliyullah ad-Dahlawi sebagai
berikut.
Pertama, empat madzhab tersebut berpegang kepada generasi salaf.
Argumentasi-argumentasi yang dibangun oleh empat Imam tersebut berjalan secara
bersambung dari generasi sebelumnya sampai kepada Rasulullah SAW.
Kedua, empat madzhab tersebut adalah madzhab terbesar yang ada
hingga sekarang. Dengan mengikuti salah satu dari empat madzhab tesebut berarti
kita telah mengamalkan hadis agar kita mengikuti pendapat paling banyak.
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه يَقُوْلُ : سَمعْتُ
رَسُوْلَ اللهِ صَلَى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ،
فَإِذَا رَأَيْتُمْ اِخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظمِ
Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW
bersabda: Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan. Jika kalian
melihat perbedaan atau berselisihan, maka ikutilah golongan yang besar atau
kelompok mayoritas.
Ketiga, para
empat Imam madzhab tersebut hidup dalam sebaik-baik qurun yaitu qurun (zaman)
salafusholih yang kredibilitasnya, popularitasnya dan reputasnya dapat
dipertanggungjawabkan. Sejarah telah membuktikannya.
Wahbah al-Zuhaily bahkan mengutip
pendapat Imam Taqiyuddin Ibn al-Shalah as-Syahrazuri (577-643 H/1181-1245 M)
mengatakan “Menjadi keharusan, mengikuti madzhab para imam empat, bukan yang
lainnya, karena madzhab mereka telah tersebar luas, pembatasan kemutlakannya
dan pembatasan keumumannya telah diketahui dan cabang-cabangnya telah
diuraikan. Hal ini berberbeda dengan madzhab-madzhab selain mereka.
Kaum muslimin sidang jum’at rahimakullah
Dengan demikian, sudah tepatlah apa
yang kita lakukan saat ini. Kita mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan
pandangan ulama terdahulu. Oleh karena itu, jangan gampang terpengaruh, jangan
gampang terprovokasi oleh pandangan atau teriakan orang yang mengatakan “jangan
bermadzhab, jangan mengikuti madzhab empat, jangan mengaji kitab kuning,
langsung saja dari al-Qur’an dan hadis dan lain-lain”. Terakhir mari kita
dengarkan apa yang dikatakan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh K.H. Hasyim
Asy’ari berikut dalam kitab Ziyadat al-Ta’liqat agar
kita mengikuti salah satu dari madzhab yang empat agar kita selamat.
أَمَّا أَهْلُ السُّنَةِ فَهُمْ
أَهْلُ التَّفْسِيْرِ وَالْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ فَإِنَّهُمْ الْمُهْتَدُوْنَ
الْمُتَمَسِّكُوْنَ بِسُنَّةِ النَّبِيْ صلى الله عليه وَسلم والخُلَفَاءِ
بَعْدَهُ الرَّاشِدِيْنَ وَهُمْ الطَّائِفَةُ النَّاجِيَةُ قَالُوْا وَقَدْ
اجْتَمَعَتْ الْيَوْمَ فِي مَذَاهِبَ أَرْبَعَةٍ الحَنَفِيُّوْنَ
وَالشَّافِعِيُّوْنَ وَالْمَالِكِيُّوْنَ وَالْحَنْبَلِيُّوْنَ.
Artinya: Adapun Ahlussunnah adalah mereka yang masuk dalam
kelompok ahli tafsir, ahli hadis dan ahli fiqh. Mereka adalah orang-orang yang
mengikuti dan berpegangangan kepada Sunnah Nabi, khalifah empat setelah Rasul (al-khulafa’u al-rasyidun). Mereka (yang mengikuti Nabi
dan Khalifah yang empat) adalah kelompok yang selamat. Para ulama mengatakan,
mereka yang selamat tersebut terkumpul dalam mazhab yang empat saat ini yaitu
madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hambali.
جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ
وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.
اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ
يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ
عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ
الرَّاحِمِيْنَ.
اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ
اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ
بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.
اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ
!
اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِالرَّشَادِ.
وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ
تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ.
اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ
وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ
الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ
وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ
وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ
السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ
مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا
ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ
سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ
امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.
اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ
ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ
وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ
وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar