Senin, 28 April 2025

Sholawat Nariyah

Sholawat Nariyah merupakan salah satu jenis sholawat yang diajarkan oleh Rasulullah. Sholawat ini juga populer dikenal dengan sebutan sholawat Tafrijiyah.

Disadur dari buku 'Rahasia Dahsyat Shalawat Keajaiban Lafadz Rasulullah' yang ditulis M. Kamaluddin, sholawat Nariyah diciptakan oleh Syekh Nariyah. Ia adalah sosok yang hidup di zaman Nabi Muhammad dan dianggap sebagai salah satu sahabat Nabi.

Syekh Nariyah diketahui merupakan sosok yang menekuni bidang ketauhidan. Sebagai sahabat nabi, ia banyak melihat perjuangan Rasulullah SAW dalam mengajarkan Islam termasuk dalam menyampaikan wahyu, mengajarkan amal saleh, dan akhlakul karimah.

Suatu malam, Syekh Nariyah membaca sholawat sebanyak 4.444 kali. Dalam sholawat tersebut, ia mendoakan kesejahteraan dan keselamatan untuk Rasulullah SAW. Setelahnya, Allah kemudian memberikan karomah kepadanya.


Dikutip dari laman NU, berikut ini bacaan sholawat Nariyah dalam Arab, Latin, dan artinya:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَامًا تَامًّا عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَــمَّدِ ࣙالَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَعَلىٰ اٰلِهِ وِصَحْبِهِ فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَ نَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ


Arab Latin: Allâhumma shalli shalâtan kâmilatan wa sallim salâman tâmman `alâ sayyidinâ Muḫammadinil-ladzi tanḫallu bihil-`uqadu wa tanfariju bihil-kurabu wa tuqdlâ bihil-ḫawâiju wa tunâlu bihir-raghâ'ibu wa ḫusnul-khawâtimi wa yustasqal-ghamâmu biwajhihil-karîmi wa `alâ âlihi wa shaḫbihi fî kulli lamḫatin wa nafasin bi`adadi kulli ma`lûmilak(a).


Artinya: "Ya Allah, limpahkanlah shalawat yang sempurna dan curahkanlah salam kesejahteraan yang penuh kepada junjungan kami Nabi Muhammad, yang dengan sebab beliau semua kesulitan dapat terpecahkan, semua kesusahan dapat dilenyapkan, semua keperluan dapat terpenuhi, dan semua yang didambakan serta husnul khatimah dapat diraih, dan berkat dirinya yang mulia hujanpun turun, dan semoga terlimpahkan kepada keluarganya serta para sahabatnya, di setiap detik dan hembusan nafas sebanyak bilangan semua yang diketahui oleh Engkau."

Keutamaan Sholawat Nariyah

Ada banyak keutamaan bagi umat muslim yang membaca sholawat ini mulai dari terkabulnya permintaan yang dikehendaki hingga kelancaran rezeki. Dan berikut beberapa keutamaan sholawat Nariyah dari pendapat berbagai ahli ulama yang dilansir dari laman NU:


1. Tercapainya Cita-cita yang Diinginkan

Keutamaan sholawat Nariyah bagi siapa saja yang mengamalkannya adalah cita-citanya dapat terkabul jika dibaca sebanyak 4444 kali. Keutamaan tersebut dijelaskan dalam kitab Khazinatul Asrar karya Sayyid Muhammad Haqqi An-Nazili yang mengatakan:

"Salah satu shalawat yang mustajab ialah shalawat Tafrijiyah Qurthubiyah, yang disebut orang Maroko dengan shalawat Nariyah karena jika mereka (umat Islam) mengharapkan apa yang dicita-citakan, atau ingin menolak yang tidak disukai, mereka berkumpul dalam satu majelis untuk membaca shalawat Nariyah ini sebanyak 4444 kali, tercapailah apa yang dikehendaki dengan cepat (bi idznillah)."

2. Sumber Kelancaran Rezeki

Sholawat Nariyah dapat menjadi doa pembuka rezeki. Imam Dainuri berkata bahwa bagi siapa saja yang membaca wirid sholawat nariyah sebanyak 11 kali setelah sholat Fardhu, maka rezekinya tidak akan terputus. Tak hanya rezeki yang tidak terputus, dengan membaca sholawat ini, ia akan mendapatkan jabatan dan tingkatan orang kaya.

3. Hajatnya Terkabul

Keutamaan berikutnya yaitu mampu mengabulkan hajat seseorang. Keutamaan tersebut tertuang dalam hadits riwayat Ibnu Mundah dari Jabir yang menjelaskan bahwa bagi siapa saja yang membaca sholawat Nariyah sebanyak 100 kali, maka Allah akan mengijabahi 100 kali hajatnya, 70 hajatnya di akhirat, dan 30 hajatnya di dunia.

4. Dipermudah Masalah dalam Hidupnya

Dalam Kitab An-Nuzhah seperti dikutip dalam Khazinatul Asrar dijelaskan keutamaan sholawat Nariyah jika dibaca sebanyak 100 kali juga mampu menyelesaikan permasalahan hidup yang dihadapi.

Rasulullah bersabda, "Perbanyaklah sholawat kepadaku karena dapat memecahkan masalah dan menghilangkan kesedihan."

Demikianlah semoga bermanfaat.


Rabu, 23 April 2025

Doa harian 5

Ya Allah, Ya Rahmaan (الرحمن) Ya Rahiim (الرحيم), Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Di dalam kitab-Mu Engkau telah berfirman


ذَٰلِكَ ٱلۡكِتَٰبُ لَا رَيۡبَۛ فِيهِۛ هُدٗى لِّلۡمُتَّقِينَ


(Q.S. Al-Baqarah ayat 2).


Telah Engkau nyatakan keagungan dan kemuliaan Al-Quran, yang tidak ada keraguan di dalamnya. Al-Quran adalah wahyu yang datang langsung dari-Mu. Tidak ada keraguan, kesalahan, atau kontradiksi di dalamnya. Hal ini menegaskan keaslian dan kebenaran Al-Quran sebagai  petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa, yang menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan yang menjalankan perintah-Mu.


Sungguh, Al-Quran adalah sumber kebenaran yang sempurna, tanpa keraguan. Petunjuk dari Al-Quran niscaya lebih mudah diterima oleh hati yang bersih dan penuh ketakwaan. Al-Quran berisi ajakan untuk menjadi orang yang bertakwa agar bisa meraih petunjuk-Mu dengan optimal.


Maka, berkat sifat Maha Welas Asih dan Maha Penyayang-Mu, anugerahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada kami agar kami dan anak keturunan kami masuk golongan. hamba-hambam-Mu yang beriman yang mengambil pelajaran dan hikmah tentang hal itu, sehingga senantiasa terpanggil untuk bisa konsisten dalam mempelajari, memahami, mengamalkan, dan mengajarkan Al-Quranul Kariim, sebagaimana yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu itu. Aamiin.🤲

Selasa, 22 April 2025

Do'a Harian 4

Ya Allah, Ya ‘Aziiz (العزيز) Ya Jabbaar (الجبار)", Engkau yang Maha Perkasa lagi Maha Memiliki (mutlak) kegagahan. Di dalam kitab-Mu Engkau telah berfirman 


ثُمَّ ٱرْجِعِ ٱلْبَصَرَ كَرَّتَيْنِۢ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ ٱلْبَصَرُ خَاسِئًۭا وَهُوَ حَسِيرٌۭ


(Q.S. Al-Mulk ayat 4).


Engkau telah memerintahkan manusia untuk mengulang pengamatan terhadap ciptaan-Mu dan berpikir secara kritis dan teliti. Hasilnya, niscaya hati serta akal manusia pada akhirnya harus mengakui kesempurnaan ciptaan-Mu. Manusia tidak akan menemukan cacat atau kekurangan sedikit pun pada ciptaan-Mu. Meskipun berusaha dengan seluruh daya dan kemampuan akalnya, manusia pasti hanya bisa kagum dan takjub, atau hanya mengalami kelelahan karena tak mampu menemukan cela.

Begitulah, langit yang luas, bintang-bintang, planet, dan segala sistemnya yang teratur sempurna jelas mencerminkan betapa dahsyat kemahaperkasaan-Mu. Akal manusia tak akan mampu menembus hakikat dan rahasia ciptaan-Mu sepenuhnya, kecuali sejauh yang Engkau izinkan. Sungguh, daya jangkau upaya dan akal manusia sangat terbatas dibandingkan ciptaan-Mu yang terlalu agung.

Maka, berkat sifat Maha Welas Asih dan Maha Penyayang-Mu, anugerahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada kami agar kami dan anak keturunan kami masuk golongan hamba - hamba-Mu yang beriman yang mengambil pelajaran dan hikmah tentang hal itu, sehingga senantiasa terpanggil untuk  terus bertafakkur kemudian menyadari betapa sempurnanya ciptaan-Mu, dan bersaksi bahwa hanya kepada -Mulah manusia seharusnya bersujud dan menyembah, tunduk dan patuh, sebagaimana yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu itu. Aamiin. 🤲

Khutbah Nikah Bahasa Arab

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلْحَمْدُ لِلَّهِ مُصَوِّرُ الْآجِنَّةِ فِىْ ظُلَمِ الْاَرْحَامِ ناَظِمِ عَقْدِ الْاُالْفَةِ بَيْنَ الزَّوْجَيْنِ أَحِسَنَ نِظَامٍ، أَحْمَدَهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى عَلَى هَذِهِ النِّعَمِ الْعِظَامِ، وَأَشْكُرُهُ عَلَى مَا أَوْلَاناَمِنْ بَدَائِعِ الْاِكْرَامِ،

أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّااللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ شَهَادَةً مُوَصِّلَةً اِلَى دَارِالسَّلَامِ وَاَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ وَبَارَكَ وَسَلَّمَ اَمَّا بَعْدُ :

اَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ الْكِرَامَ رَحِمَكُمُ اللهُ, أُوْصِيْكُمْ وَاِءيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ,

وَاَعْلَمُوْا أَنَّ لنِّكَاحِ سُنَّةً مَرْغُوْبَةٌ وَطَرِيْقَةٌ مَحْمُوْدَةٌ قَالَ تَعَالَى فِىْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ

" وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ"

قَالَ رَسُوْلُهُ الْاَكْرَمُ وَحَبِيْبُهُ الْاَعْظَمُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ؛ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ” متفق عليه.

وَقَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَنْ نَكَحَ للهِ وَأَنْكَحَ اللهِ اءِسْتَحَقَّ وَلِاَيَةَ اللهِ".

وَاَعْلَمُوْا أَنَّ الْاُمُوْرَ كُلَّهَابِيَدِ اللهِ, يَقْضِيْ فِيْهَا مَايَشَاءُ وَيَحْكُمُ مَايُرِيْدُ، لَامُؤَخِّرَ لِمَا قَدَّمَ وَلَامُقَدِّمَ لِمَا أَخَّرَ،وَلَايَجْتَمِعُ اءِثْنَانِ وَلَايَفْتَرِقَانِ اِلاَّ بِقَضَاءٍ وَقَدَرٍ وَلِكُلِّ قَضَاءٍ قَدَرٌ وَلِكُلِّ قَدَرٍ أَجَلٌ وَلِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ, يَمْحُوْ اللهُ مَايَشَاءُ وَيُثْبِتُ،

وَعِنْدَهُ أُمُّ الْكِتَابِ, فَاسْتَغْفِرُوْا االله َالْعَظِيْمَ أِنَّ اللهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ. أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمِ الَّذِيْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ وَأَتُوْبُ إِلَيْهِ 3X

اَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ 3x صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Sholawat Busyro

 

اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَامُحَمَّدٍ صَاحِبِ الْبُشْرى صَلَاةً تُبَشِّرُنَابِهَا وَاَهْلَنَا وَاَوْلَادَنَا وجَمِيْعَ مَشَايِخِنَا وَمُعَلِّمِنَا وَطَلَبَتَنَا وَطَالِبَاتِنَامِنْ يَوْمِنَاهذَااِلى يَوْمِ الْأَخِرَةِ

Arab Latin: Allaahumma shalli wa sallim 'alaa Sayyidinaa Muhammadin shaahibil busyraa shalaatan tubasysyiruna bihaa wa ahlanaa wa awlaadanaa wa jamii'a masyaayikhinaa wa mu'alliminaa wa thalabatanaa wa thaalibaatinaa min yawminaa haadzaa ilaa yawmil aakhirah

Artinya: "Ya Allah, semoga rahmat dan keselamatan senantiasa tercurah limpahkan kepada junjungan kami Baginda Nabi Muhammad pemilik kabar gembira yang memberi kabar gembira kepada keluarga kami, anak-anak kami, guru-guru kami, para pengajar kami, dan siswa-siswi kami sejak hari ini hingga sampai hari akhirat."

sholawat busyro memiliki potensi untuk membantu kita dalam meraih kelapangan hidup, yaitu terhindar dari kesulitan, ketakutan, dan kecemasan. 

Selain itu, dengan membaca sholawat sebagai sarana mendapat syafaat Rasulullah SAW. 

Amalkan setiap saat, sebanyak mungkin.Semoga apa yang menjadi hajad baik kita di ijabah oleh Allah SWT. 

Senin, 21 April 2025

Doa harian 3

“Ya Allah, Ya Malikul Mulk (الملك الملك ) Ya Muqsith (المقسط), Engkau yang Maha Penguasa kerajaan semesta alam lagi maha pemberi keadilan. Di dlm kitab-Mu Engkau telah berfirman 


الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ 


(Q.S. Al-Mulk ayat 3).

Telah Engkau nyatakan bahwa Engkau menciptakan tujuh lapisan langit yang tersusun bertumpuk dengan kesesuaian yang sempurna, tanpa ada kekurangan atau kelemahan, tanpa ada yang berbenturan satu sama lainnya. Semua memperlihatkan adanya keteraturan atau kesesuaian dalam penciptaan. Tidak ada satu pun bagian di dalamnya yang memperlihatkan adanya yang cacat, retak, atau pecah. 

Sungguh, tidak ada satu pun ciptaan-Mu itu yang tidak seimbang, timpang, rusak, atau kacau. Semua yang ada di langit memperlihatkan bukti keteraturan dan keseimbangan yang luar biasa. Hal ini semakin memperjelas betapa kemahakuasaan dan kemahaesaan-Mu. 

Maka, berkat sifat Maha Welas Asih dan Maha penyayang-Mu, anugerahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada kami agar kami dan anak keturunan kami masuk golongan hamba-2-Mu yang beriman yang mengambil pelajaran dan hikmah tentang hal itu, sehingga senantiasa terpanggil untuk  pandai bersyukur dan berlindung kepada-Mu, bersujud dan menyembah hanya kepada-Mu, serta tunduk dan patuh kpd-Mu, sebagaimana yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu itu. Aamiin. 🤲

DZIKRO HAUL SYAIKH ABDULKARIM LIRBOYO

1. Halus tidak pernah marah.

Pernah diceritani Syaikhina Mbah Yai Anwar Manshur Bhw Al'arif Mbah Yai Abdulkarim Muassis Lirboyo itu sangat halus tdk pernah memarahi santri. Paling-paling hanya menangis saat melihat kelakuan santri yang tidak baik. Makanya disukai orang dan santrinya banyak. Dawuh mustahiq saya dulu kurang lebih: _"Mbah Abdul Karim itu aslinya keras tapi berubah menjadi orang yang sangat penyabar."


2. Ngorek kitab-kitab kecil.

Menurut alm. Syaikhina Mbah Yai Idris Marzuqi, Mbah Abdul Karim itu hanya membacakan kitab-kitab kecil sapeti ibnu aqil. Justru yg mengajar kitab-kitab besar seperti Bukhori, Muslim dan lain-lain adalah para santri-santri senior. Karena itulah sebelum wafat beberapa kali Mbah Yai Idris dalam sidang kwartal mendorong para mustahiq/munawwib di lirboyo untuk mau ngorek/mengajar kitab-kitab yang besar. 


3. Shohibul futuh dan shohibul karomah ilmu

Ada lagi yang bercerita, sebenarnya dimasa itu banyak Ulama yang lebih 'alim dari beliau. Tapi para santri saat itu menganggap mondok/ngaji kepada Mbah Abdul Karim itu mujarrob sebagai kunci mendapatkan futuh. Maka tidak heran jika di era beliau banyak sekali yang mondok di Lirboyo adalah para alumni-alumni jebolan dari berbagai pesantren yang sudah alim. Mbah Yai Idris pernah dawuh bahwa karomahnya Mbah Abdul Karim itu fi babil ilmi.


4. Sangat tawadluk

Dan yang sangat jelas Mbah Abdul Karim itu piantun Agung yang super tawadluk. Mbah Yai Idris pernah mempersilahkan para santri untuk meniru Mbah Abdul Karim dalam hal apa saja semampunya kecuali dalam hal nikah di usia tua. Mbah Yai Abdul Karim itu beda. Beliau telat nikah sampai usia 50 tahun itu karena saking tawadluknya sehingga merasa tidak pantas untuk menikahi wanita manapun. Diantara ketawadlukan Mbah abdul Karim adalah tidak pernah mengaku punya santri. Tapi beliau menganggap para santri-santri sebagai santrinya Guru beliau yakni Syaikhona kholil. Tidak heran jika sering kita mendengar para Masyayikh lirboyo sampai sekarang tidak mengaku memiliki santri tapi hanya mengaku sebagai penerus para muassis. Masyhad inilah yang sering dinasehatkan masyayikh agar para pengajar di lirboyo janggan sekali-sekali merasa punya murid/santri. Tapi hendaknya memposisikan diri sebagai khodim dan talang ilmunya para masyayikh. _"Mbah Abdul Karim, Mbah Marzuqi dan Mbah Mahrus Ali saja tidak berani mengaku punya santri masa kalian berani?"_ Kurang lebih Dawuh Mbah Yai Idris saat itu dihadapan para khodimin MHM Lirboyo. Adalagi masyayikh yang bercerita, bahwa Mbah Yai Abdul Karim itu selalu menunduk dan tidak pernah menengadahkan wajahnya ke atas. Menurut Imam Asya'rony memang ada sebagian para wali-wali Alloh yang berada di maqom tawadluk atau kamalul ubudiyah dengan ciri-ciri selalu menunduk serta tidak pernah menengadahkan wajahnya ke langit. Masih menurut Imam Asya'rony, ciri-ciri orang yang sudah mencapai maqom tawadluk tob'i (menjadi watak tabiat) itu tidak akan bisa berubah menjadi takabur/ujub/ge-er andaikan dipuji-dipuji satinggi langit oleh banyak manusia. Dan derajat orang yang tawadluk itu bisa lebih dekat kepada Kanjeng Nabi saw. melebihi orang-orang yang lebih alim dan lebih banyak membaca sholawat Nabi.


وقد شهد النبي ص م. للشيخ نور الدين الطندتائي بالتواضع في واقعة رأيتها، وذلك أني رأيته قريبا في حضرة رسول الله ص م مقدما على مشايخه، فقال شخص يا رسول الله ما سبب قرب هذا منك ولم يكن أكثرهم علما ولا صلاة عليك فقال النبي ص م قربه مني تواضعه. (العهود المحمدية للإمام عبد الوهاب الشعراني)


6. Haliyah menjelang wafat

✍️: Rindu berat bertemu Alloh.

Menjelang wafat, setelah mengetahui kabar wafatnya Mbah Yai Zainuddin mojosari nganjuk Syaikh Abdul Karim dawuh: _"Lhoo..aku kok ditinggal.."_ tidak lama kemudian beliau menyusul sowan Gusti Alloh. Ada sebagian orang solih bermimpi melihat dua bintang terbang beriringan sebagai isyarat wafatnya Beliau berdua secara beriringan. Insyaalloh beliau berdua termasuk walinya Alloh. Kurang lebih begitulah cerita dr Mbah Yai Idris saat itu.

من أحب لقاء الله أحب الله لقاءه

✍️: Mahabbatunnabi

Dalam buku 3 tokoh diceritakan bahwa Beliau sangat menginginkan wafat dihari senin Sebagaimana dulu Sayyidina Abubakar Ashiddiq Ra. Juga sangat menginginkan wafat dihari senin seperti hari wafatnya Sang Kekasih Baginda Nabi saw. dan Alloh telah mengabulkan harapan para kekasih-Nya.

✍️: Kuatnya ikatan batin dengan Guru

Saat menjelang wafat beliau Mbah Yai Abdul Karim tidak minta doa macam-macam. Beliau hanya minta didoakan semoga diakui oleh Syaikhona Kholil bangkalan sebagai santri. Semoga kita semua diakui sebagai santri beliau...Amin 3x

الى حضرة النبي محمد ص م ولسائر مشايخنا وله..... الفاتحة


Minggu, 20 April 2025

Do'a Harian 2

"Ya Allah, _*Ya Rahmaan*_ (الرحمن) _*Ya Rahiim*_ (الرحيم), Engkau yg maha pengasih lagi Maha Penyayang. Di dalam kitab-Mu Engkau telah berfirman


بِٱلْبَيِّنَٰتِ وَٱلزُّبُرِ ۗ وَأَنزَلْنَآ إِلَيْكَ ٱلذِّكْرَ لِتُبَيِّنَ لِلنَّاسِ مَا نُزِّلَ إِلَيْهِمْ وَلَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ


(Q.S. An-Nahl ayat 44).


Sungguh, bahwa para Nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ telah Engkau bekali mukjizat (bayyinat) dan kitab-kitab suci (zubur) sebagai pedoman bagi umat mereka. Adapun, kepada Nabi Muhammad ﷺ Engkau turunkan adz-Dzikr (Al-Quran) sebagai peringatan, petunjuk, dan rahmat bagi manusia. Dengan Al-Quran itulah Nabi Muhammad ﷺ menerangkan kpd manusia apa yang telah diturunkan kepadaNya. Jadi, tugas Nabi Muhammad ﷺ adalah menjelaskan isi Al-Quran, baik melalui ucapan, perbuatan, maupun penjelasan (tafsir). 


Hal tersebut menunjukkan bahwa penjelasan sang Nabi (As-Sunnah) menjadi sangat penting untuk memahami Al-Quran melalui proses berpikir dan merenungkan isi wahyu yang datang dari-Mu itu, sehingga mereka memperoleh hikmah dan petunjuk. Di sisi lain, berarti Al-Quran yg Engkau turunkan bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk dipahami. Dalam hal ini, Nabi Muhammad ﷺ memiliki peran penting dalam menjelaskan isi Al-Quran, sekaligus membuktikan pentingnya As-Sunnah sebagai sumber ajaran Islam. Alhasil, umat Islam seharusnya berpikir dan merenung, tidak hanya menerima secara pasif.


Maka, berkat sifat Maha Welas Asih dan Maha Penyayang-Mu, anugerahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada kami agar kami dan anak keturunan kami masuk golongan hamba-Mu yang beriman yang mengambil pelajaran dan hikmah tentang hal itu, sehingga senantiasa terpanggil untuk mau membaca, memahami, berpikir dan merenungkan penjelasan yang ada pada Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana yang Engkau maksudkan dalam firman-Mu itu. _*Aamiin."*_  🤲

Doa harian 1


"Ya Allah, Ya Nuur (النور) Ya Haadiy (الهادي), Engkau yang maha memberi penerangan setiap hati lagi maha pemberi petunjuk. Di dalam kitab-Mu Engkau telah berfirman menunjukkan di antara ciri- ciri orang yg bersyukur dan yang kufur.


إِنَّا هَدَيْنَـٰهُ ٱلسَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًۭا وَإِمَّا كَفُورًا


(Q.S. Al-Insaan ayat 3).


Telah Engkau nyatakan bahwa Engkau telah beri petunjuk kepada manusia, dan mereka bebas memilih apakah mrk akan bersyukur dan taat kepada-Mu atau kufur (mengingkari) petunjuk-Mu. Engkau telah menunjukkan jalan kebenaran, yaitu tauhid dan iman, jalan para Nabi dan Rasul, dan syariat yang lurus. Engkau telah memberikan akal, fitrah, dan wahyu sebagai penunjuk jalan bagi manusia, sehingga manusia tidak bisa lagi berdalih bahwa dirinya tidak tahu. Oleh sebab itu, orang yang menggunakan petunjuk-Mu, yang mengikuti jalan kebenaran, dan taat kepada perintah-perintah-Mu, mereka itulah orang yang benar-benar bersyukur. Adapun, orang yang kufur adalah mereka yang menolak petunjuk-Mu, yang mendustakan kebenaran, dan memilih jalan kemaksiatan atau kesesatan.


Begitulah, di antara tanda syukur itu adalah iman kepada-Mu, mengamalkan ajaran agama-Mu, dan menjaga akhlak dan ibadah yang Engkau perintahkan. Adapun, di antara tanda kufur adalah menolak petunjuk-Mu, mendustakan kebenaran yg disampaikan para Nabi dan Rasul utusan-Mu, dan memilih jalan maksiat atau kesesatan. Dengan demikian, kufur di sini bisa meliputi kufur nikmat, kufur tehadap ajaran Islam, dan/atau bahkan kekafiran mutlak dengan mengingkari-Mu.


Maka, berkat sifat maha welas asih dan maha penyayang-Mu, anugerahkanlah taufik dan hidayah-Mu kepada kami agar kami dan anak keturunan kami masuk golongan. hamba-Mu yang beriman yang mengambil pelajaran dan hikmah tentang hal itu, ssehingga senantiasa terpanggil untuk bersyukur, taat, dan patuh mengikuti petunjuk-Mu, bukan yang menolak dan mendustakan kebenaran yang disampaikan para Nabi dan Rasul pilihan-Mu, atau memilih jalan kemaksiatan atau kesesatan, sbgmn yg Engkau maksudkan dalam firman-Mu itu. Aamiin." 

Khutbah Jum'at Bahasa Jawa

 Ninggalne Ma'siat

Khutbah 1

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي أَصْلَحَ الضَّمَائِرَ ، وَنَقَّى السَّرَائِرَ ، فَهَدى الْقَلْبَ الْحَائِرَ اِلَى طَرِيْقِ أَوْلَى الْبَصَائِرَ ، أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلهَ إِلَّا اللهُ 
وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ رَبُّ الْعِزَّة وَالْبَصِيْرِ ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُه نَبِيُّ الْمُصْطَفَى الْفَقِيْر ، اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحمَّدٍ خَاتَمِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلى آلِهِ وأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ  


أمَّا بَعْدُ فيا أيُّهَا الحَاضِرُونَ رَحِمَكُمُ الله ، أُوْصِيْكُمْ وَإيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فاَزَ الْمُتَّقُوْنَ قال تعالى : يا أيها الذين آمَنُوا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْن

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Monggo kito sami ningkataken takwo dumateng Gusti Allah, kanti ngelampahi sedoyo perintahipun lan nebihi sedoyo laranganipun, sehinggo kito saget pikantuk rohmat lan maghfiroh saking Gusti Allah. Kulo ngajak dumateng kulo piyambak, ugi dateng panjenengan sedoyo supados sami-sami ajrih marang Gusti Allah ingatase ngedohi maksiat.

Sholawat serto salam keaturaken dumateng Kanjeng Nabi Muhammad ingkang kito ajeng-ajeng syafaatipun, ugi sampun nuduhaken marang kito ingkang asale wonten ing dalan pepeteng tumuju dalan ingkang padang, nggih meniko Islam.

Kedah kito mangertosi bilih menungso gesang wonten dunyo meniko mboten saget tebih ucul saking maksiyat, amargi menungso sampun dipun titahaken kaliyan Gusti Allah dados makhluk ingkang nggadah luput, ino, lemah. Sinaoso mekaten, ikhtiar nebihi perkawis ingkang nyebabi duso kedah estu dilaksanakaken.

 Gusti Allah sampun dawuh:
وَذَرُوْا ظَاهِرَ الْاِثْمِ وَبَاطِنَهٗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْسِبُوْنَ الْاِثْمَ سَيُجْزَوْنَ بِمَا كَانُوْا يَقْتَرِفُوْنَ


Artosipun: Lan pada tinggalno sekabehane tindakan duso, ingkang dzohir lan batin. Saktemene wong kang ninda’ake tumindak duso, niku sesok wonten dinten kiyamat bakal pikantuk walesan sebab tindakan duso ingkang dipun lampahi  (surah al An’am 120)
Dawuhipun Gusti Allah meniko ngimutake kita sedoyo bilih sejatine duso ingkang dumawah dateng manungso wonten kalih. Kekalihipun sami bahayani lan wajib ditebihi. Inggih meniko: dusa dzohir ingkang ketingal lan duso batin ingkang mboten ketingal. 
Hadirin Ingkang Sami Bahagio
Duso dzohir meniko tegese duso ingkang ketingal mripat, wujude jelas, saget dipun pirsane kaliyan peningal utawi dipun mirengaken kaliyan kuping. Contohe, omben-omben ingkang mendemi, judi, zina, misuhi  lan sak pitunggalane.
Lajeng maksude duso batin meniko duso ingkang wujude mboten ketingal mripat, kados sombong, ujub, riya, ghibah, adu-adu, iri, dengki lan sedoyo kemaksiatan ingkang wonten lebete ati ingkang samar, mboten saget dipun tingali mripat. 

Tindakan ingkang nukulaken duso meniko kedah dipun tebihi, dipun resiki, sebab saget ngalangi rejeki lan keberkahane sinten kimawon. Kanjeng Nabi dawuh:

إِنَّ الْعَبْدَ لَيُحْرَمُ الرِّزْقَ بِالذَّنْبِ يُصِيبُهُ
Artosipun: Saktemene menungso iku kinalingan rejekine sebab duso ingkang dipun lampahi (HR Ahmad)
Hadis niki maknane duso ingkang numpuk wonten awak dewe niku kedah dipun resiki kaliyan maos istighfar, taubat, lan janji mboten ngulangi maleh, sebab duso niku saget nyebabaken rejeki mampet, seret.
Hadirin Ingkang Dipun Rohmati Allah
Kito gesang ing dunyo tasih katah ingkang dereng saget mareni maksiate. Sering sanget kito ngisi waktu kaliyan dolanan, perkawis ingkang mboten manfaati, misale dolanan hape, main game, bahkan judi online. Akhire katah tiyang ingkang kejlumprung duso amergi nuruti howo nafsu lan bujukane setan.


Leres sanget menawi poro ulama ndawuhaken bilih duso niku saget tukul disebabaken anggur-angguran uripe, batine garing, nyia-nyiaken waktu, sehinggo bablas dolanan game judi online. Judi online niku hukume haram. Gusti Allah dawuh:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
Artosipun: Hai wongkang podo iman, saktemene nginum khomer, judi, korban kanggo berhala, adu nasib kelawan panahan iku termasuk amalane setan, mongko adohono supoyo siro kabeh selamet (Maidah: 90)
Ayat meniko mertelaaken bilih amalan-amalan olo kados nginum arak, main judi, korban kangge tumbale berhala, ngundi nasib kelawan panahan sedoyo kalebet amalane setan ingkang senengane ngajak menungso ngelampahi duso alit hinggo duso ageng. 
Jaman sakmangke tambah canggih, ugi perkawis ingkang nyebabaken duso, utawi remen  maksiat soyo canggih, sedoyo niku saget dipanggihi wonten hape, tivi. Kito kedah atos-atos lan njogo awak piyambak serto keluarga saking geni neroko.
Monggo kito sami nyuwun marang Gusti Allah saget dipun paringi kekuatan nebihi perkawis maksiat, dipun tulungi saget njogo awak piyambak lan keluarga saking duso ingkang sakmangke soyo canggih. Mugi-mugi kito sedoyo tansah pinaringan pituduh saking Gusti Allah.


اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ تَبَارَكَ الَّذِي بِيَدِهِ الْمُلْكُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ،  الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِى الْقُرْاَنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاَياَتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. اَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II:


اَلحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَمَا اَمَرَ. وَأَشْهَدُ اَنْ لَّا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ إِرغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلاَئِقِ وَالبَشَرِ. اَللَّهُمُّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ مَا اتَّصَلَتْ عَيْنٌ بِنَظَرٍ وَاُذُنٌ بِخَبَرٍ 


 
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا َعِبادَ الله إِتَّقُوْا اللهَ تَعَالَى وَذَرُوْا الفَوَاخِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بطَنَ وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَخُضُوْرِ الجُمُعَةِ وَالجَمَاعَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ  فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلاَئِكَةِ المُسَبِّحَةِ قُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالىَ وَلَمْ يَزَلْ قَائِلاً عَلِيْمًا إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَااَيَّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وِسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجمَعِيْنَ, اَللَّهُمَّ وَارْضَ عَنِ الخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الَّذِيْنَ قَضَوْا بِالحَقِّ وَكَانُوْا بِهِ يَعْدِلُوْنَ سَادَاتِنَا أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ وَعَنْ سَائِرِ أَصْحَابِ نَبِيِّكَ أَجْمَعِيْنَ وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ
اللَهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِينَ وَالمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ, اَللَّهُمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ المُسْلِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ أَهلِكِ اليَهُوْدَ وَالنَّصَارَى وَالْكَفَرَةَ وَالْمُشْرِكِيْنَ. اَللَّهُمَّ اَمِنَّا فِى دُوْرِنَا وَأَصْلِحْ وُلاَةَ أُمَوْرِنَا وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِمَنْ خَافَكَ وَاتَّقَاكَ. اَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الغَلاَءَ وَالوَبَاءَ والرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بِلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلاَدِ المُسلِمِينَ العَامَّةً يَارَبَّ العَالَمِينَ  رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


عِبادَ الله ! إِنَّ اللهَ يَأمُرُ بِالعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى القُربَى وَيَنْهَى عَنِ الفَخْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُم لَعَلَّكُم تَذَكَّرُوْنَ, فَاذْكُرُوْا اللهَ العَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ اشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكبَرُ

 

khutbah jum'at tahun baru

 Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ وَاسِعِ الْفَضْلِ وَالْاِحْسَانِ، وَمُضَاعِفِ الْحَسَنَاتِ لِذَوِي الْاِيْمَانِ وَالْاِحْسَانِ، اَلْغَنِيِّ الَّذِيْ لَمِ تَزَلْ سَحَائِبُ جُوْدِهِ تَسِحُّ الْخَيْرَاتِ كُلَّ وَقْتٍ وَأَوَانٍ، العَلِيْمِ الَّذِيْ لَايَخْفَى عَلَيْهِ خَوَاطِرُ الْجَنَانِ، اَلْحَيِّ الْقَيُّوْمِ الَّذِيْ لَاتَغِيْضُ نَفَقَاتُهُ بِمَرِّ الدُّهُوْرِ وَالْأَزْمَانِ، اَلْكَرِيْمِ الَّذِيْ تَأَذَّنَ بِالْمَزِيْدِ لِذَوِي الشُّكْرَانِ. أَحْمَدُهُ حُمْدًا يَفُوْقُ الْعَدَّ وَالْحُسْبَانِ، وَأَشْكُرُهُ شُكْرًا نَنَالُ بِهِ مِنْهُ مَوَاهِبَ الرِّضْوَانِ


أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ دَائِمُ الْمُلْكِ وَالسُّلْطَانِ، وَمُبْرِزُ كُلِّ مَنْ سِوَاهُ مِنَ الْعَدَمِ اِلَى الْوِجْدَانِ، عَالِمُ الظَّاهِرِ وَمَا انْطَوَى عَلَيْهِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَخِيْرَتُهُ مِنْ نَوْعِ الْاِنْسَانِ، نَبِيٌّ رَفَعَ اللهُ بِهِ الْحَقَّ حَتَّى اتَّضَحَ وَاسْتَبَانَ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَالْاِحْسَانِ. أَمَّا بَعْدُ، أَيُّهَا الْاِخْوَانُ أُوْصِيْكُمْ وَاِيَايَ بِتَقْوَى اللهِ وَطَاعَتِهِ، بِامْتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجْتِنَابِ نَوَاهِيْهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Puji syukur alhamdulillah mari kita tanamkan dalam hati kita bersama, sebagai ungkapan syukur kepada Allah swt atas segala nikmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada kita semua, khususnya nikmat iman dan takwa, sehingga kita bisa terus istiqamah untuk bersama-sama menunaikan ibadah shalat Jumat. Semoga ibadah yang kita lakukan ini diterima oleh-Nya, dan menjadi bukti bahwa kita termasuk hamba-hamba-Nya yang taat pada perintah-Nya.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Muhammad saw, allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala alih wa sahbih, yang telah mengangkat manusia dari lembah kenistaan yang gelap lagi pekat menuju tempat yang terang benderang dan berada dalam ridha-Nya. Semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan kepada keluarganya, para sahabatnya, dan semua umatnya.


Selanjutnya, sebagai awal dalam memulai khutbah Jumat di atas mimbar yang mulia ini, kami selaku khatib mengajak diri sendiri, keluarga, dan semua jamaah yang turut hadir pada pelaksanaan shalat Jumat ini, untuk terus berusaha dan berupaya dalam meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Karena hanya dengan modal iman dan takwa, kita semua bisa menjadi hamba yang selamat di dunia dan akhirat.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah dengan cara menata kembali masa depan menjadi lebih baik dan lebih positif. Hal itu bisa dilakukan dengan cara mengatur kembali waktu dan segala kegiatan yang ada, khususnya saat ini kita semua berada pada awal tahun baru Islam. Maka sudah seharusnya tidak hanya tahunnya yang baru, namun juga harus menumbuhkan semangat baru.


Menumbuhkan semangat baru di tahun baru merupakan salah satu ajaran Al-Qur’an, di mana Allah swt menegaskan kepada kita semua perihal pentingnya selalu berusaha untuk terus meningkatkan semua kualitas dan kuantitas. Jaminan yang akan didapatkan adalah akan ditampakkan kepada mereka jalan-jalan yang benar. Berkaitan dengan hal ini, Allah swt berfirman dalam Al-Qur’an:


وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al-‘Ankabut [30]: 69).


Berkaitan dengan ayat ini, Imam Fakhruddin ar-Razi dalam kitab tafsir Mafatihul Ghaib menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan perihal jaminan dan balasan dari Allah bagi orang-orang yang terus berusaha untuk selalu meningkatkan semangat dalam melakukan ketaatan, yaitu akan ditunjukkan kepada mereka jalan yang benar.


Orang-orang yang terus berusaha untuk selalu meningkatkan ketaatan dan kebaikan dalam hidupnya, akan mendapatkan balasan yang istimewa dari Allah. Karena itu, Allah mengajak kepada kita semua untuk terus semangat dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam meningkatkan ketaatan, keimanan dan kebaikan. Allah swt berfirman:

لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya, “Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah). Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (QS Yunus [10]: 26).


Dua ayat ini mengingatkan kita semua perihal pentingnya peningkatan ketaatan dan kebaikan dalam setiap harinya. Oleh karena itu, momentum tahun baru ini sudah seharusnya kita jadikan ajang untuk terus meningkatkan semangat baru dalam melakukan ibadah dan ketaatan kepada-Nya. Dengan demikian, maka tidak hanya tahunnya yang baru namun akan ada ketaatan dan kebaikan baru pula yang akan kita kerjakan.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Terus semangat dalam meningkatkan ketakwaan dan kebaikan menjadi salah satu tanda bahwa mereka merupakan manusia terbaik. Hal ini sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah, bahwa suatu saat ia ditanya oleh para sahabat perihal paling baik dan buruknya manusia. Kemudian nabi menjelaskan bahwa manusia terbaik adalah mereka yang oleh Allah diberikan umur yang panjang kemudian ia gunakan umur tersebut untuk melakukan kebaikan.


Sebaliknya, paling buruknya manusia adalah mereka yang diberikan umur yang panjang, namun panjangnya umur tersebut digunakan untuk keburukan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw dalam salah satu haditsnya bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ وَشَرُّ النَّاسِ مَنْ طَالَ عُمْرُهُ وَ سَاءَ عَمَلُهُ

Artinya, “Paling baiknya manusia adalah orang yang dikaruniai umur panjang dan baik (benar) perbuatannya. Sedangkan paling buruknya manusia adalah orang yang panjang umurnya dan jelek perbuatannya.” (HR at-Tirmidzi)


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Mengutip pendapat Imam Ibnu Rajab al-Hanbali dalam kitab Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, bahwa bertambahnya umur dan kebaikan menjadi barometer keimanan seseorang, karena orang-orang yang beriman akan terus bertambah kebaikannya seiring dengan bertambahnya umur,


فَالْمُؤْمِنُ الْقَائِمُ بِشُرُوْطِ الْإِيْمَانِ لَا يَزْدَادُ بِطُوْلِ عُمْرِهِ إِلاَّ خَيْرًا وَمَنْ كَانَ كَذَلِكَ فَالْحَيَاةُ خَيْرٌ لَهُ مِنَ الْمَوْتِ

Artinya, “Maka orang beriman yang menunaikan semua ketentuan-ketentuan iman, tidak akan bertambah dari panjangnya umur selain (juga bertambah) kebaikan. Dan, siapa saja yang bisa seperti ini, maka hidup (di dunia) lebih baik baginya daripada mati.”


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Itulah pentingnya menumbuhkan semangat baru dalam setiap harinya, khususnya saat ini kita semua berada pada momentum tahun baru Islam. Maka hal terbaik yang layak untuk kita lakukan adalah terus menumbuhkan semangat baru untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas dalam melakukan ketaatan dan kebaikan.


Orang-orang yang terus berusaha untuk meningkatkan ketaatan dan kebaikannya, akan mendapatkan balasan dan jaminan yang sangat istimewa dari Allah swt, yaitu ditempatkan dalam surga yang dipenuhi dengan nikmat. Mereka akan kekal di dalamnya bersama dengan para kekasih-kekasih Allah.


Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah

Demikian khutbah Jumat perihal pentingnya menumbuhkan semangat baru di tahun baru ini. Semoga bisa membawa manfaat dan keberkahan bagi kita semua dan kita digolongkan sebagai hamba yang istiqamah dalam menjalankan semua perintah dan menjauhi larangan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ. بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah II


اَلْحَمْدُ لِلهِ حَمْدًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ اِلَّا الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، اِلَهٌ لَمْ يَزَلْ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ وَكِيْلًا. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَحَبِيْبُهُ وَخَلِيْلُهُ، أَكْرَمِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْأَخِرِيْنَ، اَلْمَبْعُوْثِ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. اللهم صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىَ أَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ كَانَ لَهُمْ مِنَ التَّابِعِيْنَ، صَلَاةً دَائِمَةً بِدَوَامِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِيْنَ.


أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَذَرُوْا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ. وَحَافِظُوْا عَلَى الطَّاعَةِ وَحُضُوْرِ الْجُمْعَةِ وَالْجَمَاعَةِ وَالصَّوْمِ وَجَمِيْعِ الْمَأْمُوْرَاتِ وَالْوَاجِبَاتِ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ بِنَفْسِهِ. وَثَنَى بِمَلَائِكَةِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. إِِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيماً.


اللهم صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِيْ العَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اللهم اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وِالْأَمْوَاتِ. اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَةً، اِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ


عِبَادَ اللهِ، اِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِيْ الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرُكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.


Hukum Darah Jerawat

 Deskripsi :

Jerawat adalah kondisi kulit yang terjadi ketika pori-pori kulit tersumbat oleh minyak, debu, dan sel kulit mati, menyebabkan peradangan dan pembentukan benjolan atau lecet pada kulit. Jerawat umumnya muncul di wajah, tetapi juga bisa terjadi di punggung, dada, dan bagian tubuh lainnya.

Pertanyaan :
Ketika jerawat tersebut berdarah, bagaimana hukum darah tersebut :

Jawaban : 
Sedikit atau banyak darah jerawat dihukumi ma'fu meskipun keluarnya dengan unsur kesengajaan semisal dipencet. 

Referensi :

كفاية الأخيار  ص ٩٢
ومنها دم البارت وقيمها وصديقها كدم البراغيث في عقر عن قليله وعن كثيره في الأصح ولو عصره على الارجح والبارات جمع بقرة وهو خراج صغير  اه‍

Hukum Terkena Cat Pada Anggota Wudhu

Seringkali saat kita mengecat rumah,pagar rumah maupun perabot rumah tangga atau yang lainnya,secara tidak sengaja mengenai anggota wudhu kita,dan kebetulan cat tersebut cat yang sulit hilangnya jika tidak dibersihkan dengan tiner ataupun bensin.

Pertanyaannya : 

Bagaimana hukum wudhunya seseorang yang anggota wudhunya terkena cat tersebut ? dan dia tahu bila anggota wudhunya terkena cat setelah selesai,Apakah harus mengulangi wudhundn sholatnya ?

Jawab : 

Wudhu dan Shalatnya tidak sah dan wajib mengulanginya lagi, karena saat berwudhu ada anggota wudhu yang tidak terkena basuhan air wudhu disebabkan terhalang oleh cat.sehingga jika wudhunya tidak sah otomatis shalatnya juga tidak sah.

Referensi kitab:

Asnaa al-Mutholib Juz 3 halaman 280 ,Al- Majmu' Juz 1 Halaman 387.

Khutbah Jum'at Istiqamah

Khutbah I  

 اَلْحَمْدُ للهِ الْمَوْجُوْدِ أَزَلًا وَأَبَدًا بِلَا مَكَانٍ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الْأَتَمَّانِ الْأَكْمَلَانِ، عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ، أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْقَدِيْرِ الْقَائِلِ فِيْ مُحْكَمِ كِتَابِهِ: إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ   

 Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,  

 Sedaya puji namung kagungan Allah ta’ala. Dzat ingkang Maha Kawasa. Dzat ingkang maringi kita kathah kanugrahan. Sedaya kanugrahan punika mangga tansah kita syukuri, kanthi mindakaken takwa kita dhateng Allah ta’ala. Takwa kelawan nindakake perintah lan nilar sedaya larangan saking Allah ta’ala. Mugi-mugi kita dados tiyang ingkang begja wonten ing dunya lan akhirat. Ugi istiqamah ing dalem nglampahi titah saking Gusti Allah ta’ala.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah
Istiqamah artosipun inggih punika saget ngajegake ing dalem taat dhateng Allah. Tiyang ingkang istiqamah tansah jaga nglampahi kewajiban uga saget nebihi lan nilar sedaya ingkang dipun haramaken Allah. Tiyang-tiyang ingkang mekaten, mangka ana ing akhirat, bakal mlebet swarga. Allah ta’ala sampun paring dhawuh:

 فَاسْتَقِمْ كَمَآ اُمِرْت وَمَنْ تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْاۗ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

Artosipun: “Mangka jejega (istiqamah) sira, kaya olehe den printah sira lan wong kang taubat sartane sira, lan aja padha lacut sira kabeh. Setuhune Allah iku Mirsani apa kang kabeh mbok lakoni,” (QS Hud:112)

Wonten ing ayat sanesipun Allah ta’ala ugi dhawuhake:

  إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ (فصلت: ٣٠)  

Artosipun: “Saktemene wong-wong kang padha ngucap: utawi Pengeran ingsun kabeh, iku Gusti Allah. Nuli padha jejeg (istiqamah), mangka malaikat bakal temurun sarta padha matur, aja wedi lan aja susah. Lan bungaha sira kabeh, kelawan suwarga ingkang sampun dijanjikake Allah,”  (QS Fushshilat: 30).

Wonten ing kitab Tafsir Al Ibriz dipun terangake, bilih tiyang ingkang istiqomah, tegese tiyang ingkang netepi tauhid lan nindaake kewajiban-kewajiban, mangka wong kaya iku wau nalikane arep mati, malaikat padha medun nekani deweke, lajeng dhawuh: Sira kabeh aja padha wedi (ngadepi pati) lan susah (ninggalake keluarga lan liya-liyane).

Lan janjine Allah ta’ala, yaiku kabar bungah arupi suwarga maring tiyang-tiyang ingkang istiqamah kaya mengkunu iku.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,  

Istiqamah dados perkawis ingkang penting, kangge cekelan kita ing dalem nglampahi gesang wonten ing zaman ingkang penuh tantangan sakmenika.

Tiyang ingkang istiqamah ing ndalem gujengi ajaran agama lan ketaatan dhateng Gusti, piyambake bakal urip tentrem, adem, ayem. Ora gampang kabujuk marang gumebyare dunya. Ora gampang nglarani ati wong liya lan kosok wangsule, ora gampang lara ati. Sebab uripe tansah disandarke maring Gusti Allah.

Senajan katon entheng utawi sepele, ananging istiqamah menika sejatine dados perkawis ingkang agung. Sebab kedudukanipun ingkang agung menika, wonten pangandikan: "al istiqamah khairun min alfi karamah", setunggal amal ingkang istiqamah, niku langkung sahe tinimbang sewu karomah.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,  

Pramila, mangga kita tansah istiqamah ing ndalem ajaran Islam, senaoso zaman terus berubah. Kita manfaatke, urip ingkang sementara niki, kangge taat dhateng Allah ta’ala. Urip wonten ing dunya niki, inggih punika nikmat ingkang kedah dipun syukuri, supados kita angsal kesaenan wonten ing dunya lan akhirat.

Kita dedunga kalian Allah ta’ala mugi kita saget tansah istiqamah ing dalem taat dhateng Allah ta’ala. Amin ya Rabbal Alamin.

 
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  

Khutbah II

    اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ  

Ajie Najmuddin, Pengurus MWCNU Banyudono Boyolali, Jawa Tengah

Khutbah Jum'at Madzhab

 

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سيدنا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اما بعـد

قال الله تعالى: اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡ‌ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ  تَاۡوِيۡلًا

Kaum muslimin sidang jum’at rahimakumullah

Pada kesempatan yang sangat berharga ini, marilah kita meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT. Caranya adalah dengan imtisaalu al-awaamir wa ijtinaabu an-nawaahi (melaksanakan perintah-perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-larangannya). Ketahuilah, tidak ada bekal yang paling bagus kita bawa dihadapan Allah SWT, kecuali takwa kita kepada Allah SWT.

Kaum muslimin sidang Jum’at rahimakumullah

Kita sudah mengetahui, jika seseorang tidak bisa mengambil langsung hukum yang ada dalam al-Qur’an maka ia wajib mengikuti pendapat ulama yang memiliki ilmu. Ia tidak boleh dengan sembarangan menafsiri al-Qur’an atau memahami al-Hadits tanpa ilmu. Dalam beribadah misalnya, orang awam sebaiknya mengikuti ulama madzhab atau lebih mudahnya mengikuti para mujtahid. Ibn Katsir  dalam menjelaskan makna ulil amri pada surah al-Nisa’ ayat 59 sebagai orang-orang yang paham ilmu agama secara luas dan mendalam. Apa yang dikatakan oleh Ibn Katsir ini sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Abdullah bin Abbas, Jabir bin Abdullah al-Anshari, Mujahid bin Jabr, ‘Atha’ bin Abi Rabah, al-Hasan al-Bashri dan lain-lain. Surat al-Nisa’ ayat 59 tersebut berbunyi.

 

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡۤا اَطِيۡـعُوا اللّٰهَ وَاَطِيۡـعُوا الرَّسُوۡلَ وَاُولِى الۡاَمۡرِ مِنۡكُمۡ‌ۚ فَاِنۡ تَنَازَعۡتُمۡ فِىۡ شَىۡءٍ فَرُدُّوۡهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوۡلِ اِنۡ كُنۡـتُمۡ تُؤۡمِنُوۡنَ بِاللّٰهِ وَالۡيَـوۡمِ الۡاٰخِرِ‌ ؕ ذٰ لِكَ خَيۡرٌ وَّاَحۡسَنُ  تَاۡوِيۡلًا

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan ulil amri di antara kalian. Kemudian jika kalian berbeda pendapat tentang sesuatu,  maka kembalikanlah (penyelesaian masalah itu) kepada Allah dan Rasul, jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama dan lebih bagus akibatnya.

Para ahli ushul fiqh juga menganjurkan bagi orang awam untuk mengikuti para mujtahid dalam menjalankan ibadah seperti yang tersebut dalam surah an-Nahl ayat 43

 

فَاسْـَٔلُوْٓا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَۙ

Artinya: Bertanyalah kalian kepada  orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui.

Pertanyaannya sekarang adalah, siapakah mujtahid yang mashur dan baik untuk diikuti. Jawabannya adalah para mujtahid yang sering disebut sebagai empat imam madzhab. Kenapa disebut madzhab? Jawabannya adalah karena empat imam tersebut telah berijtihad dan menfatwakan hasil ijtihadnya lalu diikuti oleh murid-muridnya, kemudian murid-murid tersebut menyebarkan gagasan Sang imam hingga sekarang. Imam yang empat itu adalah Imam Abu Hanifah (lahir 80 H/699 M meninggal 150 H/767 M), Imam Malik (lahir 95 H/713 M dan meninggal tahun 179 H/795 M), Imam Syafi’i (lahir tahun 150 H/767 dan meninggal 204 H/819 M) dan Imam Ahmad bin Hanbal (lahir 164 H/781 M dan meninggal 241 H/855 M.

Kenapa empat madzhab itu yang dipilih? Alasannya seperti yang diungap oleh Imam Waliyullah ad-Dahlawi sebagai berikut.

Pertama, empat madzhab tersebut berpegang kepada generasi salaf. Argumentasi-argumentasi yang dibangun oleh empat Imam tersebut berjalan secara bersambung dari generasi sebelumnya sampai kepada Rasulullah SAW.

Kedua, empat madzhab tersebut adalah madzhab terbesar yang ada hingga sekarang. Dengan mengikuti salah satu dari empat madzhab tesebut berarti kita telah mengamalkan hadis agar kita mengikuti pendapat paling banyak.

 عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه يَقُوْلُ : سَمعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : إِنَّ أُمَّتِي لَا تَجْتَمِعُ عَلَى ضَلاَلَةٍ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ اِخْتِلاَفًا فَعَلَيْكُمْ بِالسَّوَادِ اْلأَعْظمِ

Artinya: Dari Anas bin Malik, ia berkata: aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya ummatku tidak akan sepakat dalam kesesatan. Jika kalian melihat perbedaan atau berselisihan, maka ikutilah golongan yang besar atau kelompok mayoritas.

Ketiga, para empat Imam madzhab tersebut hidup dalam sebaik-baik qurun yaitu qurun (zaman) salafusholih yang kredibilitasnya, popularitasnya dan reputasnya dapat dipertanggungjawabkan. Sejarah telah membuktikannya.

Wahbah al-Zuhaily bahkan mengutip pendapat Imam Taqiyuddin Ibn al-Shalah as-Syahrazuri (577-643 H/1181-1245 M) mengatakan “Menjadi keharusan, mengikuti madzhab para imam empat, bukan yang lainnya, karena madzhab mereka telah tersebar luas, pembatasan kemutlakannya dan pembatasan keumumannya telah diketahui dan cabang-cabangnya telah diuraikan. Hal ini berberbeda dengan madzhab-madzhab selain mereka.

Kaum muslimin sidang jum’at rahimakullah

Dengan demikian, sudah tepatlah apa yang kita lakukan saat ini. Kita mengamalkan ajaran Islam sesuai dengan pandangan ulama terdahulu. Oleh karena itu, jangan gampang terpengaruh, jangan gampang terprovokasi oleh pandangan atau teriakan orang yang mengatakan “jangan bermadzhab, jangan mengikuti madzhab empat, jangan mengaji kitab kuning, langsung saja dari al-Qur’an dan hadis dan lain-lain”. Terakhir mari kita dengarkan apa yang dikatakan oleh pendiri NU, Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari berikut dalam kitab Ziyadat al-Ta’liqat agar kita mengikuti salah satu dari madzhab yang empat agar kita selamat.

 

أَمَّا أَهْلُ السُّنَةِ فَهُمْ أَهْلُ التَّفْسِيْرِ وَالْحَدِيْثِ وَالْفِقْهِ فَإِنَّهُمْ الْمُهْتَدُوْنَ الْمُتَمَسِّكُوْنَ بِسُنَّةِ النَّبِيْ صلى الله عليه وَسلم والخُلَفَاءِ بَعْدَهُ الرَّاشِدِيْنَ وَهُمْ الطَّائِفَةُ النَّاجِيَةُ قَالُوْا وَقَدْ اجْتَمَعَتْ الْيَوْمَ فِي مَذَاهِبَ أَرْبَعَةٍ الحَنَفِيُّوْنَ وَالشَّافِعِيُّوْنَ وَالْمَالِكِيُّوْنَ وَالْحَنْبَلِيُّوْنَ.

Artinya: Adapun Ahlussunnah adalah mereka yang masuk dalam kelompok ahli tafsir, ahli hadis dan ahli fiqh. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti dan berpegangangan kepada Sunnah Nabi, khalifah empat setelah Rasul (al-khulafa’u al-rasyidun). Mereka (yang mengikuti Nabi dan Khalifah yang empat) adalah kelompok yang selamat. Para ulama mengatakan, mereka yang selamat tersebut terkumpul dalam mazhab yang empat saat ini yaitu madzhab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hambali.

 

جَعَلَ اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنْ الْفَائِزِيْنَ الْامِنِيْنَ وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُتَّقِيْنَ.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. وَمَنْ يَشْكُرْ فَاِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ, وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ اللهَ غَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِيْنَ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَاَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

اَلْخُطْبَةُ الُثَّانِيَةُ

         اَلْحَمْدُ لِلّهِ ضَامِنِ الْفَلَاحِ لِمَنْ تَمَسَّكَ بِالشَّرْعِ وَوَقَفَ عِنْدَ حُدُوْدِهِ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّم تَسْلِمًا كَثِيْرًا.

        اَمَّابَعْدُ : فَيَااَيُّهَا النَّاسُ !

اِتَّقُوا اللهَ وَاَبْدِلُوا الْفَسَادَ بِالرَّشَادِ. وَاَصْلِحُوا شُؤُوْنَكُمْ وَقُوْمُوْا عَلى قَدَمِ السَّدَادِ. فَاِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَاعْلَمُوْا اَنَّما عَلى رَسُوْلِنَا الْبَلَاغُ الْمُبِيْنُ. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلى الِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اللّهُمَ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْاَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ وَارْفَعْ لَهُمُ الدَّرَجَاتِ وَضَاعِفْ لَهُمُ الْحَسَنَاتِ وَكَفِّرْعَنْهُمُ السَّيِّئَاتِ وَبَلِّغْ جَمِيْعَ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ خَيْرَيِ الدَّارَيْنِ مَايُؤَمِّلُوْنَ وَانْشُرْ وَافِرَ اِحْسَانِكَ عَلى بَلْدَتِنَا هذِهِ وَسَا ئِرِ بِلَادِ الْاِسْلَامِ. رَبَّنَا اغْفِرْلَنَا وَلِاِخْوَانِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِيْمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِى قُلُوْبِنَا غِلًّا لِلَّذِيْنَ امَنُوْا رَبَّنَا اِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ.

اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبى وَيَنْهى عَنِ الْفَخْشآءِ وَالْمُنْكَرِوَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرْنَ. وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ. وَاللهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.

Doa Masuk dan Keluar Masjid

 Doa Masuk Masjid Versi Pendek


اللَّهُمَّ افْتَحْ لي أبْوَابَ رَحْمَتِكَ

Allahummaftha lii abwaaba rahmatika.

"Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu untukku."


Doa Masuk Masjid Versi Panjang

Berikut doa masuk masjid yang dapat diamalkan muslim seperti dinukil dari Kitab Al-Adzkar oleh Imam Nawawi yang diterjemahkan Masturi Irham dan Muhammad Aniq.


أَعُوذُ بِاللَّهِ الْعَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّحِيمِ، اَلْحَمْدُ لِلَّهِ ، اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلَّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ؛ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ


Arab latin: A'uudzu billaahil 'adzhiimi wa biwajhihil kariimi wa sulthaanihil qadiimi minasy syaithaanir rajiim, alhamdulillah, allahumma shalli wa sallim 'ala muhaammadin wa 'ala aali muhammadin, allahummaghfir lii dzunuubii waftah lii abwaaba rahmatik.


Artinya: "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Agung, kepada Zat-Nya Yang Maha Mulia dan kepada kekuasaan-Nya Yang Maha Dahulu dari setan yang terkutuk. Segala puji bagi Allah. Ya Allah, limpahkanlah sholawat dan salam kepada Nabi Muhammad dan keluarganya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku dan bukakanlah untukku semua pintu rahmat-Mu."

Doa Keluar Masjid

أعُوْذُ بِاللهِ العَظِيْمِ وَبِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ وَسُلْطَانِهِ الْقَدِيْمِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلهِ. أَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذُنُوْبِي وَافْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ


Bacaan latin: A'ûdzu billâhil 'azhîm wa biwajhihil karîm wa sulthânihil qadîm minas syaithânir rajîm. Bismillâhi wal hamdulillâh. Allâhumma shalli wa sallim 'alâ sayyidinâ muhammadin wa 'alâ âli sayyidinâ muhammadin. Allâhummaghfirlî dzunûbî waftahlî abwâba fadhlik.


Artinya, "Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Besar, kepada Dzat-Nya Yang Maha Mulia, dan kepada kerajaan-Nya Yang Sedia dari setan yang terlontar. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Hai Tuhanku, berilah shalawat dan sejahtera atas Sayyidina Muhammad dan atas keluarga Sayyidina Muhammad. Wahai Tuhanku, ampuni untukku segala dosaku. Bukakan lah bagiku segala pintu kemurahan-Mu," (Lihat Sayid Utsman bin Yahya, Maslakul Akhyar, Cetakan Al-'Aidrus, Jakarta).


Doa Keluar Masjid Versi Pendek

 اَللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ فَضْلِكَ

Allâhumaftahlî abwâba fadhlik.

Wahai Tuhanku, Bukakan lah bagiku segala pintu kemurahan-Mu,

Lafal doa setelah wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ، وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ،

 سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوبُ إلَيْكَ

Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lahū, wa asyhadu anna Muhammadan abduhū wa rasūluhū. Allāhummaj’alnī minat tawwābīna, waj’alnī minal mutathahhirīna. Subhānakallāhumma wa bi hamdika asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka, wa atūbu ilayka.

“Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah yang Maha Esa tiada sekutu bagi-Nya dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Ya Allah jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang bertaubat. Dan jadikanlah saya termasuk golongan orang-orang yang suci. Maha Suci Engkau Ya Allah, segala pujian untuk-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau dan aku meminta ampunan dan bertaubat pada-Mu).

Sabtu, 19 April 2025

Hukum Membakar Dupa

Sering kali kita jumpai acara pengajian, fida'an,Istighotsahan maupun sholawatan yang disertai pembakaran dupa ( menyan Arab) , tujuannya adalah untuk membuat wewangian keseluruh ruangan, karena dengan membakar dupa bau wangi dapat menyebar ke seluruh ruangan bahkan sampai luar ruangan. 

Pertanyaan : 

  1. Apa hukum membakar dupa pada acara-acara tersebut
  2. Adakah dasar tentang hal tersebut ? 

Jawab :

  1. Boleh
  2. Ada dasarnya/dalilnya.
Referensi : Bulghotul Tulab hal 53.

بلغة الطلاب ٥٣

     (مسألة لة ج) 

إخراج البخور عند ذكر اللّه تعالى ونحوه كبراءة القرآن ومجلس العام له اصل في السنة من حيث أن النبي صلى الله عليه وسلم يحب الريح الطيب الحسن ويحب الطيب ويستعملها كثيرا ويخض عليهما ويقول حبب إلي من دنيا كم النساء والطيب وجعلت قرة عيني في الصلاة ا ه‍


Minggu, 13 April 2025

Wudhu

Wudhu atau bersuci dari hadat kecil merupakan salah satu syarat sah shalat. Dalam situasi normal (bukan rukhsah), seseorang yang melaksanakan shalat tanpa berwudhu maka shalatnya tidak sah karena tidak memenuhi syarat. Dalil yang mendasari perintah wudhu sebelum shalat adalah firman Allah dalam Al-Quran Surat Al-Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki.”

Dalil tentang penolakan shalat tanpa bersuci juga tercantum dalam hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, sebagaimana berikut:

لَا يَقْبَلُ اللَّهُ صَلَاةً بِغَيْرِ طَهُورٍ

“Allah tidak menerima shalat tanpa bersuci,” (HR Muslim).

 

Berikut ini adalah tata cara berwudhu berdasarkan wajib wudhu:

1. Niat wudhu.

2. Membasuh wajah.

3. Membasuh kedua tangan hingga siku.

4. Mengusap sebagian kepala.

5. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki.

6. Tertib.

Adapun berikut ini merupakan rangkaian wajib wudhu beserta sunah wudhu (Bafadhal Al-Hadhrami, 2012 M/1433-1434 H: I/58-66):

1. Bersiwak. ( Sunah )

2. Basmalah. (Sunah )

3. Membasuh kedua tangan.(Sunah)

4. Berkumur 3 kali. (Sunah)

5. Menghirup air ke dalam hidung (istinsyaq) 3 kali. (Sunah)

6. Melafalkan niat. (Wajib)

Adapun berikut ini adalah lafal niat wudhu yang dapat dibaca sebelum membasuh wajah:

Niat 1 نَوَيْتُ رَفْعَ الحَدَثِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaytu raf‘al hadatsi lillāhi ta’ālā.


Atau Niat 2 نَوَيْتُ فَرْضَ الوُضُوْءِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaytu fardhal wudhū’i lillāhi ta’ālā.


Atau Niat 3 نَوَيْتُ الوُضُوْءَ لِلهِ تَعَالَى

Nawaytul wudhū’a lillāhi ta’ālā.


Atau Niat  4 نَوَيْتُ الطَّهَارَةَ عَنِ الحَدَثِ لِلهِ تَعَالَى

Nawaytut thahārata anil hadatsi lillāhi ta’ālā.


Atau Niat 5  نَوَيْتُ الوُضُوءَ لِرَفْعِ الْحَدَثِ الأَصْغَرِ لِلَّهِ تَعَالَى

Nawaitul wudhuu-a liraf'il hadatsil ashghari lillahi ta'ala


7. Memasang niat wudhu dalam hati berbarengan dengan membasuh wajah.

8. Membasuh wajah 3 kali. (Wajib)

9. Membasuh tangan hingga siku sebanyak 3 kali. (Wajib)

10. Mengusap sebagian kulit kepala dengan air 3 kali. (Wajib)

11. Menyapu seluruh bagian kepala. (Sunah)

12. Menyapu kedua telinga 3 kali. (Sunah)

13. Membasuh kedua kaki hingga mata kaki sebanyak 3 kali. (Wajib)

14. Menghadap kiblat.

15. Membaca doa setelah wudhu.

Adapun berikut ini adalah lafal doa setelah wudhu

أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،

 وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ، وَرَسُولُهُ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ، وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ، سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إلَهَ إلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ، وَأَتُوبُ إلَيْكَ

Asyhadu an lā ilāha illallāhu wahdahū lā syarīka lahū, wa asyhadu anna Muhammadan abduhū wa rasūluhū. Allāhummaj’alnī minat tawwābīna, waj’alnī minal mutathahhirīna. Subhānakallāhumma wa bi hamdika asyhadu an lā ilāha illā anta, astaghfiruka, wa atūbu ilayka.


Sholat Witir

  1. Pengertian Sholat Witir Sholat witir adalah sholat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah sholat Isya sampai sebelum Subuh de...